Senin, 16 Desember 2024

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine (PART SIX)

 

kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine



Bunga Wattle dari Tullamarine

PART SIX

Baju Danu basah dibanjiri air mata Eda yang deras mengalir bagai air bah. Dielusnya adiknya dengan lembut dan sayang.

Katakan pada Kangmasmu, Cah Ayu. Apa yang bisa Mas Danu lakukan untuk bisa mengusir kesedihanmu?” bisik Danu.

Tidak ada, tidak ada. Tidak ada lagi yang aku inginkan. Eda sudah tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi, dan tidak menginginkan apa-apa lagi,” jawab Eda, lirih, dan terputus-putus. Masih terdengar isaknya.

Danu merasa trenyuh. Eda yang malang. Adiknya yang selalu memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang disayanginya. Memberikan sayangnya, cintanya, perhatiannya, sepenuh hatinya, tanpa sisa. Eda pasti hancur dan amat sangat kehilangan segalanya bila ada yang merenggutnya, oleh nasib, keadaan dan segala yang di luar kendalinya.

Mengapa Mas Danu tidak memberitahu Eda tentang Mas Pras?” ucap Eda. Matanya sembab dan terasa perih.

Eda, Adikku. Bagaimana mungkin Mas Danu berbagi berita yang bahkan bikin shock Mas Danu sendiri. Semua begitu mendadak dan tidak terduga. Sementara Adik lagi mengejar deadline menyelesaikan tesis. Mbak Rini baru saja masuk Rumah Sakit untuk operasi kedua kalinya. Kau harus berbagi waktu ngurus studi dan momong Edo. Sudah terlalu banyak dan berat bebanmu di sana,” tutur Danu.

Eda sudah mulai reda isaknya, meski sesekali masih terdengar menarik napas panjang.

Begitulah, nasib telah begitu tertib, dengan lupa kita juga bisa menjadi karib,” desahnya, pahit.

Ya, sedang lumut pada lokan kerak pada kerang, akan tetap juga di sana, apa pun maknanya,” lanjut Danu, meneruskan lirik sajaknya Goenawan Mohamad.

Dipeluknya adiknya dengan erat, penuh rasa sayang, trenyuh. ikut merasakan kepedihan hati Eda.

Adik masih tetap seperti Eda yang kukenal, bukan? Jangan bikin Kangmas pangling, dan tidak mengenalmu lagi, ya?” ucap Danu sambil mencubit dagu Eda.

Eda mengangguk. Sekali lagi, mencoba tersenyum. Senyum kegetiran itu masih menempel di ujung bibirnya.

***

Sudah enam bulan Eda kembali ke kantor, back to routinity. Selama enam bulan itu dia benar-benar kacau dan terombang-ambing perasaannya. Dia berusaha keras untuk melupakan segala kenangannya kepada Pras. Namun ingatan kepada kekasihnya makin mengental. Lamunannya mengembara ke masa lalu, bagaimana dia bertemu dan jatuh hati kepada sobat dekatnya Kak Danu.

Pertama kali jumpa dengan Pras, ketika Mas Danu pulang bersama dua orang kawan Wanadri, grup pecinta alam di kampusnya. Mas Agung, dari jurusan Elektro, dan Mas Pras dari Geologi. Danu menyulap garasi rumah orang tua Danu yang cukup besar menjadir ruang seraba guna. Ruang untuk menampung teman-teman naik gunungnya untuk tidur, ngobrol, menaruh perlengkapan naik gunung, dan lain-lain.

Pras dan Agung adalah dua pribadi yang berbeda karakternya. Mas Agung orangnya suka ngobrol, ramah, tidak pemalu, sedangkan Mas Pras lebih pendiam, lebih banyak mendengar. Dia bicara dengan matanya. Dan itu menarik buat Eda, yang criwis, tomboy, dan suka debat dengan Mas Danu, gadis kecil pemberontak. Eda suka misteri.

Eda diam-diam menyukai Mas Pras. Dia bayangkan, sosok seperti itu yang pas jadi suaminya. Tidak banyak bicara, tapi matanya tajam, dan sedikit menakutkan. Eda perlu seseorang yang dia takuti, seperti Ayahnya. Tentu saja Mas Danu tahu. Mas Agung lebih naksir ke Mbak Rini yang keibuan. Jadi, akhirnya Mas Agung menikah dengan Mbak Rini yang penurut itu.

Eda tahu Mas Pras mencintainya, karena dia selalu mengabarinya, di mana pun dia berada, kalau lagi tugas lapangan. Pras hanya kirim pesan pendek. Mereka jarang ketemu. Tapi Eda sangat mencintainya. Cinta pertamanya, yang selalu melekat abadi dalam hatinya.

Aku lagi mau masuk hutan, di Kaltim, Eda baik-baik saja, tho? Take care, pesan Pras. Kadang via email, kadang via text message.

Pernah sekali Mas Danu mengajak Eda ngobrol soal hubungannya dengan Pras.

Dik, kau suka sama Pras, ya? Gimana Adik tahu, dia juga sayang sama Adik?” Danu memancing Adiknya.

Ya, tahu saja, Eda merasakan getaran yang sama dari Mas Pras. Pokoké satu frekuensi dan resonansi,” ujar Eda diplomatis, sambil tersenyum malu.

Bisa tunjukkan momen mana kau benar-benar yakin, dia Pras adalah piliahnmu?”

Aku suka kalau Mas Pras putar film dokumenter dari National Geography, dan sejenisnya. Dia akan menjelaskannya dengan sabar dan semangat, seperti sedang berbagi cerita dengan Eda, very knowledgeable. Mas tahu,‘kan? Eda suka sama cowok yang pintar. He makes me feel happy and safe.”

Ya, tapi dia sering pergi jauh Dik. Orang lapangan. Kau bakal sering ditinggal-tinggal,” pancing Danu.

Ya, kan, pasti ketemu lagi. Malah bagus, tho, kangennya gak ilang-ilang. Baru sebentar ketemu, sudah pergi. Eda kan jadi ingat terus?” sahut Eda sekenanya.

Kamu, nih, romantis banget. Kau pasti membayangkan seperti di film klasiknya Meryl Streep dan Robert Redford, ya? ‘Out of Africa’?” komentar Danu.

Ya, exactly. Mas Pras bawa video itu ke rumah, dan kami melihatnya berdua. Waktu itu Mas Danu masih di Bandung. Di saat itulah, Eda jatuh cinta beneran. Mas Pras telah menyampaikan cinta dan perasaannya kepada Eda dengan memperlihatkan film itu,” tukas Eda.

Danu hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapannya. Ada rasa kekhawatiran menyelinap di dalam hatinya. Membayangkan seperti apa akhir cinta mereka.

Apakah saat itu dia mengucapkan ‘I love you’, padamu?” Danu penasaran.

Ehmm, enggak, tapi matanya mengatakan itu,” balas Eda.

Hidup gak seindah yang kau bayangkan, Dik,” ucap Danu sambil mengusap dan mengacaukan rambut Adiknya.

Wis, pokoké aku percoyo sama Mas Pras. Dia teman terbaiknya Mas Danu, tho? Your truly best friend. Someone you can trust, right?” Eda berbalik bertanya.

Danu hanya mengusap kepala adiknya, sambil tersenyum simpul. Tentu saja, dia penah bertanya langsung kepada Pras, tentang hubungan adiknya dengan Pras. Sama seperti ketika dia bertanya kepada Agung tentang perasaannya kepada Rini, Mbakyunya Eda.

***

Satu bulan pertama adalah perioda yang sangat menyiksa Eda. Hampir tiap malam dia bermimpi bertemu Pras, yang hanya diam memandangnya. Dan seluruh air mata tumpah tiada terbendung. Eda hanya bisa bersujud memohon, Tuhan dapat mengobati lukanya, dan bisa memulai menjalani kehidupan dengan lebih sehat.

Bukankah semua sudah terjadi, Eda? Itu namanya takdir. Tidak ada yang salah dan benar, bukan? Pras punya alasan untuk terbang menemui Ibunya. Kau juga punya hak untuk mencintai dan dicintainya. Tapi kadang dua peristiwa harus terjadi di saat yang sama dengan frekuensi yang berbeda, sehingga tidak bisa beresonansi lagi, dan itu di luar kendalimu. Juga kendali Pras. Ada Yang Maha Tinggi dan Berkehendak di atas langit sana.   Maka lepaskanlah sesuatu yang kau tidak bisa lagi mengontrolnya.

Itulah bisikan yang terdengar dalam hatinya.

Berangsur-angsur tangis tengah malam itu mereda, sampai Eda merasa, tidak ada lagi tersisa air mata untuk menyempurnakan dukanya.

Oke, Eda. Sebulan sudah cukup untuk menghukum dirimu sendiri, hidup dalam kegelapan. Lihatlah, matahari terus bersinar sepanjang hari. Tapi dia tidak bertengkar ketika bulan menggantikannya di malam hari. Mereka tetap akur, meski berbeda suasana, tetap beredar di alam, menjalankan fungsinya masing-masing seperti yang diperintahkan Sang Khalik. Burung-burung tetap berkicau di pagi hari, meski anak-anaknya di sarang hilang disambar elang.

Come on, Eda, let’s move on. Kalau kau pasrah, dan percaya Allah sayang padamu, kau akan menemukan kembali keajaiban-keajaiban dari alam semesta. Eda mendengar suara bisikan dari hatinya.

Untuk pertama kali di malam yang hening itu, Eda merasa damai. Ketika dia pejamkan matanya sambil bersujud, dia merasakan ada sejuta kunang-kunang berkelap kelip mengelilingi dirinya.

Life is wonderful if you can always see the bright side of it. Banyak-banyaklah bersyukur, agar bertambah nikmatmu, Eda. Sekali lagi, dia mendengar bisikan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine-PART TEN

  kata kunci : Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine PART TEN Bunga Wattle dari Tullamarine “ Well, Sir, I think I have to leave. Saya pami...