Senin, 13 Januari 2025

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine-PART TEN

 kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine

PART TEN

Bunga Wattle dari Tullamarine

Well, Sir, I think I have to leave. Saya pamit. It’s very nice to meet you. Senang berjumpa dengan Anda,” pamit Eda.

I am glad to meet you, too. Mademoiselle Eda,” lelaki itu membalas ramah, dan mengantar Eda sampai ke pintu.

Eda melambaikan tangannya ke arah anak-anak kecil ini, “Good bye Michel. Good bye Sylvie.”

Baru beberapa langkah dia berjalan, Sylvie berteriak memanggilnya.

Eda, boleh kami main lagi?” tanya Sylvie dalam bahasa Ibunya.

Eda menoleh ke belakang, memandang ke arah mereka kembali.

Bien sur ma petite amie. Tentu saja, teman kecilku. You are welcome,” jawab Eda lalu berbalik melanjutkan langkahnya.

Semenjak kedatangan Sylvie dan Michel, ruang Eda yang sepi dan jarang didatangi tamu, jadi ramai dengan suara anak-anak. Setiap Rabu, hari Eda mengajar, dua kurcaci ini pasti datang. Kadang mereka juga datang pada hari Jumat. Semangat dan kesukaan mereka menggambar begitu besar, mengingatkan Eda kepada Mas Danu, kakaknya yang suka menggambar sejak kecil. Hubungan dekat dan akrab dengan kakaknya membuat Eda juga ikut-ikutan suka menggambar seperti Kangmasnya.

Kedatangan kakak beradik yang hampir rutin tiap Rabu dan Jumat ini membuat Eda membawa bekal makan siang lebih banyak. Eda tidak selalu membawa roti. Kadang dia membawa makan khas Indonesia seperti lemper, arem-arem, atau bika ambon. Bahkan nasi goreng. Ternyata Sylvie dan Michel mau mencobanya.

Wah, lidah kalian bisa cepat beradaptasi juga, ya? Suka makanan Indonesia,” gumam Eda.

Pardon?” Sylvie tidak mengerti, mengira Eda bertanya.

Ehm, enak?” tanya Eda sambil mengacungkan jempolnya dan menunjuk ke arah makanan yang dipegang Sylvie.

Oui. Enak!” balas Sylvie menirukan ucapan Eda, sambil melanjutkan makannya.

Enak!” seru Michel, mengikuti ucapan kakaknya, sambil mengangguk-angguk.

Hee, sudah mau bicara juga, kau, Nak?” Eda senang sekali mendengar suara Michel yang selama ini selalu tersenyum memandangnya, atau mengangguk-angguk saja.

Spontan diciumnya pipi Michel yang merah seperti buah tomat itu. Matanya berbinar-binar ceria. Mata Michel yang bundar bersinar menatapnya. Sylvie melihatnya, cemburu, lalu dipeluknya Eda dan dicium pipinya, meminta perhatiannya.

Eda tersentak kaget menyadari tindakannya. Teringat kembali ketika masih kecil, dia suka iri kepada Mbak Rini yang tampaknya lebih disayang Mamanya, karena nurut dan anteng, tidak seperti Eda yang nakal -- terlalu aktif, tidak bisa diam. Itulah sebabnya dia lebih dekat dengan Mas Danu, dan meniru apa saja yang dilakukan kakak lelakinya.

Ada kekhawatiran kecil, Eda telah membuat mereka dekat dengannya, dan makin terikat secara psikologis. Rasanya ada sebagian dari dirinya yang hilang, kalau tidak melihat mereka. Mungkinkah ini sebuah kebutuhan akan hadirnya seseorang dalam hidupnya? Dan anak-anak ini telah mengisi bagian yang hilang selama ini? Sesuatu yang tanpa sadar sebenarnya juga dirindukan Eda.

Kebiasaan didatangi dua makhluk kecil ini pelan-pelan telah mempengaruhi hidupnya. Kedatangan mereka yang sebelumnya adalah sesuatu yang aneh dan tidak biasa, telah berubah menjadi semacam kebutuhan. Setiap pagi, ketika menyiapkan bekal, Eda selalu ingat makanan kesukaan mereka.

Kebiasaan membawa mereka masuk ke dalam kelasnya, yang tadinya terasa ganjil bagi mahasiswanya, lama-lama menjadi biasa. Bahkan mahasiswanya akan nyeletuk bertanya, kalau Sylvie kecil yang cantik dan bermata biru itu tidak hadir di kelas mereka.

Diam-diam mulai tersebar kabar burung, bahwa Eda hendak menikah dengan Pak Alain. Ardie sobat Eda di kantor sudah mulai menggodanya.

Da, mula-mula anaknya yang katut. Ntar, lama-lama Bapaknya juga ikutan masuk kelasmu, supaya bisa memandangmu sepuasnya. Kamu pèlèt, ya?” Ardie berjalan mengiringi Eda ketika keluar dari ruang kelasnya, mulai berolok-olok.



Kamis, 09 Januari 2025

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine - PART NINE

 kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine

PART NINE


Bunga Wattle dari Tullamarine

Small World

Eda mengetuk pintu, lalu Sylvie menariknya masuk. Ruangan itu kosong. Di dinding di belakang meja kerja Papanya Sylvie, banyak terdapat tempelan kertas-kertas gambar anak-anak, hasil coretan Sylvie dan Michel.

Itu siapa yang menggambarnya?” tanya Eda, sambil menunjuk ke dinding.

Sylvie segera berlari ke arah dinding, lalu satu persatu menjelaskan kepada Eda gambar-gambar itu, menyebutkan mana yang dibuat Sylvie, mana yang dibuat adiknya. Sementara Michel masih tetap menggenggam tangan kiri Eda, sekali-sekali tersenyum malu, bergantian memandang ke arah dinding ketika Sylvie menunjuk ke gambar Michel.

Seperempat jam berlalu ketika pintu ruangan terkuak. Seorang laki-laki asing masuk dan berhenti di dekat pintu.

Allô, mes petits! Où ȇtes vous tout à l’heure? Kemana saja, kalian?” suaranya yang ramah menghentikan ocehan Sylvie.

Ketiganya menengok ke arah pintu. Sebuah senyuman terkembang ke arah Eda, senyum yang mengingatkan kembali kepada seseorang, tapi lupa di mana dan siapa dia?

Papa!” Sylvie segera berlari menghampiri laki-laki yang dipanggil Papa ini, lalu memeluknya.

I am sorry, Sir. I am coming here without permission,” ucap Eda, meminta maaf atas kelancangannya.

Not at all, Mademoiselle, not at all,” sambut lelaki ganteng itu dibarengi dengan senyumnya yang ramah dan hangat.

Michel masih menggenggam tangan Eda. Dia tersenyum-senyum ke arah Ayahnya, lalu mengerling malu-malu ke arah Eda. Eda tersenyum penuh kasih, dan mengulurkan tangan Michel, memberi isyarat ke Michel untuk menghampiri Papanya. Lelaki itu memandang Michel yang bermata sendu dengan penuh rasa sayang dan trenyuh. Sebentar, terbesit sinar duka di wajahnya. Ekspresi ini tertangkap oleh mata Eda yang cerdas, dan membuatnya bertanya-tanya dalam hati.

Di mana istrinya? Meninggalkah? Atau berpisah dengannya?

Eda menjelaskan,“Eer, Sylvie and Michel have been in my office since this morning.”

Really? Dan mereka telah mengganggu Anda, bukan?” ujarnya, dalam Bahasa Indonesia, dengan aksen asing.

Non, non, non, Monsieur. They’re nice and cute,” buru-buru Eda menjawab, khawatir laki-laki yang dipanggil Papa ini akan memarahi mereka.

Lelaki itu memandang tajam ke arah Eda, seperti minta diyakinkan kembali atas jawaban Eda. Tatapan tajam itu mengingatkan Eda kepada Mas Pras, ketika sedang serius membicarakan sesuatu. Agak gusar Eda membalas menatapnya, memastikan bahwa dia tidak merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak di ruangan kerjanya.

Secercah senyuman lembut terkembang di sudut bibir laki-laki ganteng itu. Ditatapnya kembali Eda dengan tajam sambil, mengangguk-angguk, seperti teringat sesuatu.

I just remember. We have met before, haven’t we? Kita pernah jumpa, bukan?” tanya laki-laki itu minta diyakinkan.

Eda mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat. Dipandangnya Sylvie, lalu beralih ke Papanya.

Ya, wajah Sylvie mirip sekali dengan Papanya. Ini yang membuatnya kaget tadi pagi. Aku jadi ingat senyumnya. Aku merasa telah melihatnya, tapi siapa dia dan di mana kami bertemu? Ah, terlalu banyak yang aku lupakan semenjak pulang ke Indonesia.

Eda belum berhasil mengingatnya.

We met you in Jakarta, in the aeroplane just before we got off! Don’t you remember?” ujarnya.

Ya, saya ingat sekarang,” balas Eda seperti telah menemukan kembali jawaban teka-tekinya.

Eda teringat kembali pembicaraan singkat mereka di pesawat. Bagaimana lelaki asing ini mengolok-olok Eda yang sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya, Pras. Matanya meredup. Wajah Pras itu tiba-tiba muncul di depannya. Rasa sakit dan sesak kembali merasukinya. Eda menoleh ke jendela. Matanya sedih mengikuti dua burung gereja yang terbang bersama, lalu hinggap di pohon pepaya di luar sana. Sepasang mata laki-laki asing itu mengamatinya dengan tajam perubahan ekspresi Eda.

Apakah dia ditinggal kekasihnya? pikirnya. Hening sejenak.

Small world, n'est ce pas? Dunia kecil, ya?” suara laki-laki itu memecah kesunyian.

Eda mencoba tersenyum, tetapi hanya senyum getir yang muncul. Lelaki ganteng itu lalu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.

I am Alain George René, Just call me Alain,” kata laki-laki itu memperkenalkan diri.

I am Eda Wulandari Sujarwo. Everybody calls me Eda,” balas Eda.

Alain menjabat tangannya erat dan mantap. Senyumnya hangat dan simpatik sekali. Matanya tidak lepas memandang Eda dengan tajam. Lalu diliriknya Michel yang sudah menggandeng tangan kiri Eda lagi, tanpa dia sadari.

Mon Petit Prince, elle est très belle, n’est-ce pas? Dia cantik sekali, ya?” Alain membisikkan kalimat terakhir pelan ke telinga Michel, lalu menjentikkan jarinya ke dagu anak lelakinya.

Michel tersenyum senang, mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan. Eda turut memandangnya trenyuh. Tanpa sadar dielusnya kepala Michel dengan penuh rasa sayang, lalu diserahkannya kepada Papanya.

Kamis, 02 Januari 2025

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine - PART EIGHT

 kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine

PART EIGHT

Bunga Wattle dari Tullamarine


Eda berhenti menulis dan memandang ke arah dua makhluk kecil ini bergantian. Seolah tidak yakin akan apa yang didengarnya. Mereka membalas menatapnya, seolah menunggu jawaban ‘YA’ dari Eda. Pandangan yang polos dan penuh harap itu membuat Eda jatuh hati dan tidak tega menolaknya.

Baiklah. Tapi Sylvie dan Michel berjanji untuk bersikap manis di kelas, ya? Mendengarkan dengan tenang dan tidak berisik?” Eda memberi prasyarat. Dalam hati geli, bagaimana mungkin mereka mengerti apa yang akan disampaikannya di kelas nanti.

Mereka berdua mengangguk senang, dan melanjutkan menggambar lagi. Sekali-sekali mereka memandang Eda yang sedang asyik menulis, seakan sudah tidak sabar menunggu masuk kelas.

Akhirnya, tiba saatnya Eda mengajar. Sepanjang jalan menyusuri koridor menuju ruang kelas, Sylvie dan Michel bercanda dengan riang. Mereka berjalan di belakang Eda. Kadang mereka berhenti, bertanya bila melihat sesuatu yang menarik, sambil menunjuk.

Kelas seketika menjadi tenang kembali ketika Eda masuk. Mereka kaget dan bertanya-tanya melihat Eda masuk diikuti dua anak bule yang lucu-lucu.

Selamat siang saudara. Hari ini ada dua murid kecil akan mengikuti kuliah kita. Terlalu kecil, ya? Tapi Mereka sudah berjanji tidak akan mengganggu acara belajar-mengajar kita, kok,” kata Eda kepada mahasiswanya sambil menyuruh Sylvie dan Michel duduk di bangku paling depan di sebelah kanan.

Kedua kakak beradik ini duduk dengan tenang mendengarkan Eda. Mata mereka tidak lepas menatap Eda, mengikut setiap gerakan langkahnya sambil keheran-heranan, tidak mengerti apa yang dikatakan Eda dalam bahasa yang tidak dikenal mereka. Bahasa yang berbeda sama sekali dengan apa yang mereka ucapkan ketika berada di ruang kerja Eda.

Sekali-sekali kedua kakak beradik ini saling berpandangan, lalu sama-sama mengangkat bahu dan tersenyum sambil menutup mulut mereka. Kuliah yang berjalan 100 menit nonstop itu selesai juga akhirnya. Eda keluar diikuti Sylvie dan Michel di belakangnya.

Mengapa Eda bicara dalam bahasa yang Sylvie tidak mengerti?” tanya Sylvie.

Eda menjelaskan, “Ya, kalau Eda bicara dalam bahasa Prancis, mereka tidak mengerti, Sylvie. Mereka tidak belajar bicara bahasamu. Ici, on parles l’Indonésien, Sylvie,” tutur Eda.

Eda kembali ke ruangannya. Sylvie dan Michel masih mengikutinya. Setiap orang yang berpapasan memandang dengan bertanya-tanya.

Siapa mereka, Da?” tanya Ardie yang berjalan memotongnya.

Tidak tahu. Pagi-pagi, kurcaci-kurcaci kecil ini mengetuk pintu ruanganku. Terus mengikutiku sampai sekarang,” ujar Eda.

Wah, jangan-jangan, Bapaknya katut kamu juga, Da?” ledek Ardie.

Husyy, ojok ngono, Cak. Ntar ada malaikat liwat, diamini ucapanmu. Dilaporné Bos di langit sana. Lhak repot, aku, Cak,” seru Eda sambil mengarahkan telunjuknya ke atas.

Sampai di ruangan Eda, dua kurcaci kecil ini langsung duduk di kursi, melanjutkan menggambar lagi. Eda mengamati mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Anak kecil di mana-mana sama. Kalau sudah menemukan keasyikan dan merasa aman, mereka lupa kalau ditunggu orang tuanya. Mungkin sekarang ini Papanya sudah gelisah dan cemas mencari-cari mereka,” gumam Eda.

Sylvie, Michel, kalian tadi datang ke tempat ini sama siapa?” Eda mencoba mengingatkan mereka kepada orang tuanya.

Kami datang dengan Papa,” sahut Sylvie sambil terus menggambar.

Di mana Papamu sekarang?” tanya Eda.

Di kantornya, là bas! Di sana!” sambung Sylvie sambil menunjuk ke arah kanan jendela, ke deretan gedung-gedung di ujung sana.

Papamu pasti sedang mencarimu. Dari pagi sampai sekarang, kalian ada di sini. Sekarang sudah lewat jam 12.00. Yuk, Eda antar kembali menyusul Papa?” bujuk Eda.

Tidak. Tadi Papa bilang, kita boleh main sampai jam satu,” sahut Sylvie, menolak ajakan Eda.

Eda tidak tega memaksa mereka. Dikeluarkannya roti bekal makan siangnya dan dibagikannya sepotong-sepotong kepada mereka. Dibuatkannya dua gelas susu coklat dari dapur kecil yang ada di sebelah ruangannya. Mereka langsung melahap roti itu dengan semangat. Pasti sudah kelaparan.

Oke, kita tunggu jam satu, ya? Kalian abisin kue dan minum cokelat itu,” ucapnya.

Sambil menunggu mereka makan, Eda membereskan kertas-kertas yang berserak di meja kecil yang sudah penuh dengan coretan-coretan gambar mereka.

Betapa indahnya masa kanak-kanak. Mereka adalah pemain teater panggung kehidupan yang sejati. Anak-anak mereguk dunia sepenuhnya, tanpa ragu-ragu dan setengah-setengah. Total, intense, dengan seluruh jiwa raga, tidak pura-pura. Mereka menangis sekeras-kerasnya, tapi juga tertawa dan gembira sepenuhnya. Tidak ditahan-tahan seperti orang dewasa. Masa kanak-kanak adalah sebuah surga yang hilang ketika kita menginjak alam dewasa.

Eda memandangi dua kurcaci kecil ini dengan keharuan yang luar biasa. Ada rasa sakit menjalar perih di tubuhnya. Rasa kehilangan itu muncul kembali ketika menatap ekspresi polos yang memancarkan keriangan dan suka cita pada wajah Sylvie. Sudah hampir setahun sejak dia pulang dari Australia dan menjalani kehidupan rutin kembali, kerja, kerja, menenggelamkan diri dari kesibukannya di kampus.

Ditatapnya Michel yang selalu tersenyum malu-malu. Matanya yang melankolik, seperti merindukan sesuatu.

Setelah menghabiskan minum, Eda membujuk mereka keluar dan mengajaknya berjalan ke arah gedung yang ditunjuk Sylvie sebagai tempat Papanya bekerja. Sambil bercerita sepanjang jalan, Eda menggandeng Michel dan Sylvie memasuki gedung itu.



Selasa, 31 Desember 2024

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine - PART SEVEN

  kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine

PART SEVEN


                                                             Bunga Wattle dari Tullamarine

Teman-teman Kecil

Pagi ini, Langit cerah sedang memayungi kota. Langit biru dengan sederet awan tipis berbentuk sisik-sisik ikan. Udara kampus yang sejuk dan angin sepoi-sepoi yang berhembus memberi suasana damai di hati Eda.

Lewat jendela kaca ruangan kerjanya, Eda bisa melihat pemandangan ke arah pelataran luar. Bunga-bunga bougenville sudah bermekaran dengan warna ungu yang segar di selang- seling pohon Angsoka, yang berdaun dan berbunga lebat kekuningan. Dari kejauhan, tampak dua bukit kecil berwarna kelabu tertutup awan tipis di kakinya.

Eda senang menikmati pemandangan pagi hari yang indah ini dari balik jendela kantornya. Pemandangan ini yang selalu membuatnya rindu dan bergegas untuk berangkat ke kantor pagi-pagi sebelum kampus menjadi ramai kembali ketika jam kerja dan jam-jam kuliah sudah mulai.

Kapan-kapan, aku akan membawa kuas dan cat airku untuk mengabadikanmu. Memindahkanmu di atas kanvas kecil tanpa merusak keindahan yang telah kau persembahkan padaku setiap pagi. Kaulah kini sumber inspirasiku yang telah menolongku untuk bertahan menghadapi segala badai dan tragedi di bumi kecil jiwaku. Hidup masih layak untuk dijalani, bukan?

Mata Eda menembus melewati kaca jendela, memandang jauh sampai ke kaki langit sana.

Setiap pagi hari, segera setelah meletakkan tas kantornya, selama setengah jam Eda akan memandang keluar, dari jendela kaca besar di belakang meja kerjanya tanpa melakukan kegiatan apa-apa. Kadang, dia beranjak dari kursinya mendekat ke jendela, menatap gundukan dua bukit kembar kebiruan jauh di sana. Setelah itu, dia baru mulai kerja dengan penuh semangat, tenggelam dalam kesibukan dan tidak membiarkan dirinya dan pikirannya menganggur.

Menyiapkan materi kuliah, membaca beberapa buku referensi, membalas beberapa surat resmi, menulis paper atau artikel, membuat katalog dari buku-buku yang terpajang di rak buku kecil di ruang kerjanya. Menengok email, membalas pesan yang masuk dalam mailbox-nya.

Eda hanya sendiri di ruang itu. Meski tidak begitu besar, tetapi cukup memberi kenyamanan, sebagai tempat persembunyian yang aman. Ruangan itu berada di gedung laboratorium, letaknya paling ujung dan agak terpisah dari School Building, bahkan terpisah dari teman-teman yang menempati gedung administrasi. Itulah satu-satunya ruangan kosong yang tersedia ketika Eda kembali dari studinya.

Ruang kantor ini pernah ditempati Mr. Wilson, seorang konsultan asing yang bekerja di kantornya. Ruangan terkunci selama enam bulan semenjak Mr. Wilson meninggalkan Indonesia. Ruang yang tadinya kotor dan penuh sarang laba-laba ketika Eda membukanya pertama kali. Kini, telah berubah menjadi tempat kerja yang cozy, bersih, dan nyaman.

Setelah menikmati ‘setengah jam meditasi’ rutinnya di pagi hari, Eda segera tenggelam dalam kesibukan yang lain, menyiapkan bahan kuliah yang akan disampaikannya siang nanti.

Baru satu jam berlalu ketika terdengar ketukan pintu.

Silakan masuk,” respon Eda mendengar suara ketukan pintu.

Pintu itu tidak terbuka juga. Kembali terdengar ketukan. Pegangan pintu itu bergerak ke bawah pelan sekali, tapi tidak juga membukanya. Eda mengamati dengan tajam. Bahan-bahan mengajar sudah hampir selesai. Tinggal meng-upload beberapa grafik dan gambar. Eda malas beranjak dari kursinya.

Dia menjawab ketukan pintu itu.

Come in!” ucapnya, sambil mengunggah beberapa gambar dalam slide Power Point yang sedang dikerjakan. Dia menebak, mungkin, tamunya orang asing?

Pardon?” terdengar suara anak kecil dari balik pintu, mengucapkan kata berbahasa Prancis.

Entrez s'il vous plaît! Silakan masuk!” sahut Eda, menjawabnya dalam bahasa Prancis.

Pintu itu membuka. Dua orang anak kecil, berusia 3-5 tahun (?) laki-laki dan perempuan bermata biru, masuk dan berdiri di depan pintu. Eda agak terkejut, berhenti bekerja. Memandang ke arah mereka dengan sedikit bengong.

Samar-samar, wajah yang perempuan mengingatkannya pada seseorang, entah siapa. Dia tidak berhasil menemukan siapa wajah yang mirip dengan gadis kecil itu. Anak itu tersenyum kepadanya, agak malu-malu. Adiknya yang laki-laki, memegangi rok kakaknya, menyembunyikan wajahnya di belakangnya.

Eda membalas senyum mereka. Melambaikan tangannya sambil mengangguk, menyuruh mereka mendekat. Bergegas kakaknya mendekat ke depan meja, diikuti adiknya, masih memegangi rok kakaknya. Mereka berdiri di depan Eda sambil berpegangan di pinggir meja. Mata mereka bundar berwarna biru, berbinar memandangnya.

Quels sont vos noms, mes petits amis? Siapa nama kalian, teman-teman kecilku?” tanya Eda sambil bergantian memandang ke arah dua kakak beradik itu.

Je suis. Sylvie. Il est Michel,” jawab kakaknya.

Les beaux noms pour les beaux enfants. Nama yang bagus untuk anak-anak yang baik,” balas Eda sambil mengangkat jempolnya.

Mata mereka bersinar, senang mendapat pujian.

Qu'est-ce que c’est ça? Apa ini?” tanya Sylvie sambil menunjuk ke buku referensi yang ada di atas meja.

Oh, ini buku untuk bahan mengajar,” jelas Eda.

Boleh saya menggambar? Saya suka,” ujar Sylvie dalam bahasa Prancis. Dia segera merasa dekat dengan Eda. Adiknya ikut mengangguk-angguk.

Eda agak bingung sejenak. Lalu mengambil dua lembar kertas kosong dari printer yang ada di samping kanannya, di sebelah meja panjang, lalu memberikannya kepada Sylvie dan adiknya, dan satu pensil untuk masing-masing. Mereka senang sekali dan berdesakan menggambar di atas meja kerjanya. Eda tersenyum melihat dua anak yang lucu-lucu ini. Dia mengambil dua kursi, diletakkannya di depan meja panjang itu.

Sylvie, Michel, pindah sini, Nak. Tempatnya lebih longgar. Jadi tidak berdesakan menggambarnya,” bujuk Eda.

Ketiga manusia itu asyik dengan dunianya sendiri. Dengan tenang, Eda bisa melanjutkan persiapan mengajarnya. Sekali-sekali dia bertanya kepada Sylvie. Adiknya ikut mengangguk ketika Sylvie menjawab.

Quel est votre nom?” tanya Sylvie.

Je suis Eda,” jawab Eda. Sambil memandang bergantian ke mereka.

Vous ȇtes un professeur, come Papa? Anda seorang guru, seperti Papa?” tanyanya lagi.

Oui, ma petite amie. Ya, teman kecilku,” jawab Eda.

Mengapa sekarang Eda tidak di kelas?” lanjut Sylvie, dalam bahasa Prancis.

Ya, sebentar lagi. Setengah jam lagi Eda mengajar,” sahut Eda.

Boleh kami ikut?” tanya Sylvie, mengejutkan Eda.


Senin, 16 Desember 2024

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine (PART SIX)

 

kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine



Bunga Wattle dari Tullamarine

PART SIX

Baju Danu basah dibanjiri air mata Eda yang deras mengalir bagai air bah. Dielusnya adiknya dengan lembut dan sayang.

Katakan pada Kangmasmu, Cah Ayu. Apa yang bisa Mas Danu lakukan untuk bisa mengusir kesedihanmu?” bisik Danu.

Tidak ada, tidak ada. Tidak ada lagi yang aku inginkan. Eda sudah tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi, dan tidak menginginkan apa-apa lagi,” jawab Eda, lirih, dan terputus-putus. Masih terdengar isaknya.

Danu merasa trenyuh. Eda yang malang. Adiknya yang selalu memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang disayanginya. Memberikan sayangnya, cintanya, perhatiannya, sepenuh hatinya, tanpa sisa. Eda pasti hancur dan amat sangat kehilangan segalanya bila ada yang merenggutnya, oleh nasib, keadaan dan segala yang di luar kendalinya.

Mengapa Mas Danu tidak memberitahu Eda tentang Mas Pras?” ucap Eda. Matanya sembab dan terasa perih.

Eda, Adikku. Bagaimana mungkin Mas Danu berbagi berita yang bahkan bikin shock Mas Danu sendiri. Semua begitu mendadak dan tidak terduga. Sementara Adik lagi mengejar deadline menyelesaikan tesis. Mbak Rini baru saja masuk Rumah Sakit untuk operasi kedua kalinya. Kau harus berbagi waktu ngurus studi dan momong Edo. Sudah terlalu banyak dan berat bebanmu di sana,” tutur Danu.

Eda sudah mulai reda isaknya, meski sesekali masih terdengar menarik napas panjang.

Begitulah, nasib telah begitu tertib, dengan lupa kita juga bisa menjadi karib,” desahnya, pahit.

Ya, sedang lumut pada lokan kerak pada kerang, akan tetap juga di sana, apa pun maknanya,” lanjut Danu, meneruskan lirik sajaknya Goenawan Mohamad.

Dipeluknya adiknya dengan erat, penuh rasa sayang, trenyuh. ikut merasakan kepedihan hati Eda.

Adik masih tetap seperti Eda yang kukenal, bukan? Jangan bikin Kangmas pangling, dan tidak mengenalmu lagi, ya?” ucap Danu sambil mencubit dagu Eda.

Eda mengangguk. Sekali lagi, mencoba tersenyum. Senyum kegetiran itu masih menempel di ujung bibirnya.

***

Sudah enam bulan Eda kembali ke kantor, back to routinity. Selama enam bulan itu dia benar-benar kacau dan terombang-ambing perasaannya. Dia berusaha keras untuk melupakan segala kenangannya kepada Pras. Namun ingatan kepada kekasihnya makin mengental. Lamunannya mengembara ke masa lalu, bagaimana dia bertemu dan jatuh hati kepada sobat dekatnya Kak Danu.

Pertama kali jumpa dengan Pras, ketika Mas Danu pulang bersama dua orang kawan Wanadri, grup pecinta alam di kampusnya. Mas Agung, dari jurusan Elektro, dan Mas Pras dari Geologi. Danu menyulap garasi rumah orang tua Danu yang cukup besar menjadir ruang seraba guna. Ruang untuk menampung teman-teman naik gunungnya untuk tidur, ngobrol, menaruh perlengkapan naik gunung, dan lain-lain.

Pras dan Agung adalah dua pribadi yang berbeda karakternya. Mas Agung orangnya suka ngobrol, ramah, tidak pemalu, sedangkan Mas Pras lebih pendiam, lebih banyak mendengar. Dia bicara dengan matanya. Dan itu menarik buat Eda, yang criwis, tomboy, dan suka debat dengan Mas Danu, gadis kecil pemberontak. Eda suka misteri.

Eda diam-diam menyukai Mas Pras. Dia bayangkan, sosok seperti itu yang pas jadi suaminya. Tidak banyak bicara, tapi matanya tajam, dan sedikit menakutkan. Eda perlu seseorang yang dia takuti, seperti Ayahnya. Tentu saja Mas Danu tahu. Mas Agung lebih naksir ke Mbak Rini yang keibuan. Jadi, akhirnya Mas Agung menikah dengan Mbak Rini yang penurut itu.

Eda tahu Mas Pras mencintainya, karena dia selalu mengabarinya, di mana pun dia berada, kalau lagi tugas lapangan. Pras hanya kirim pesan pendek. Mereka jarang ketemu. Tapi Eda sangat mencintainya. Cinta pertamanya, yang selalu melekat abadi dalam hatinya.

Aku lagi mau masuk hutan, di Kaltim, Eda baik-baik saja, tho? Take care, pesan Pras. Kadang via email, kadang via text message.

Pernah sekali Mas Danu mengajak Eda ngobrol soal hubungannya dengan Pras.

Dik, kau suka sama Pras, ya? Gimana Adik tahu, dia juga sayang sama Adik?” Danu memancing Adiknya.

Ya, tahu saja, Eda merasakan getaran yang sama dari Mas Pras. Pokoké satu frekuensi dan resonansi,” ujar Eda diplomatis, sambil tersenyum malu.

Bisa tunjukkan momen mana kau benar-benar yakin, dia Pras adalah piliahnmu?”

Aku suka kalau Mas Pras putar film dokumenter dari National Geography, dan sejenisnya. Dia akan menjelaskannya dengan sabar dan semangat, seperti sedang berbagi cerita dengan Eda, very knowledgeable. Mas tahu,‘kan? Eda suka sama cowok yang pintar. He makes me feel happy and safe.”

Ya, tapi dia sering pergi jauh Dik. Orang lapangan. Kau bakal sering ditinggal-tinggal,” pancing Danu.

Ya, kan, pasti ketemu lagi. Malah bagus, tho, kangennya gak ilang-ilang. Baru sebentar ketemu, sudah pergi. Eda kan jadi ingat terus?” sahut Eda sekenanya.

Kamu, nih, romantis banget. Kau pasti membayangkan seperti di film klasiknya Meryl Streep dan Robert Redford, ya? ‘Out of Africa’?” komentar Danu.

Ya, exactly. Mas Pras bawa video itu ke rumah, dan kami melihatnya berdua. Waktu itu Mas Danu masih di Bandung. Di saat itulah, Eda jatuh cinta beneran. Mas Pras telah menyampaikan cinta dan perasaannya kepada Eda dengan memperlihatkan film itu,” tukas Eda.

Danu hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapannya. Ada rasa kekhawatiran menyelinap di dalam hatinya. Membayangkan seperti apa akhir cinta mereka.

Apakah saat itu dia mengucapkan ‘I love you’, padamu?” Danu penasaran.

Ehmm, enggak, tapi matanya mengatakan itu,” balas Eda.

Hidup gak seindah yang kau bayangkan, Dik,” ucap Danu sambil mengusap dan mengacaukan rambut Adiknya.

Wis, pokoké aku percoyo sama Mas Pras. Dia teman terbaiknya Mas Danu, tho? Your truly best friend. Someone you can trust, right?” Eda berbalik bertanya.

Danu hanya mengusap kepala adiknya, sambil tersenyum simpul. Tentu saja, dia penah bertanya langsung kepada Pras, tentang hubungan adiknya dengan Pras. Sama seperti ketika dia bertanya kepada Agung tentang perasaannya kepada Rini, Mbakyunya Eda.

***

Satu bulan pertama adalah perioda yang sangat menyiksa Eda. Hampir tiap malam dia bermimpi bertemu Pras, yang hanya diam memandangnya. Dan seluruh air mata tumpah tiada terbendung. Eda hanya bisa bersujud memohon, Tuhan dapat mengobati lukanya, dan bisa memulai menjalani kehidupan dengan lebih sehat.

Bukankah semua sudah terjadi, Eda? Itu namanya takdir. Tidak ada yang salah dan benar, bukan? Pras punya alasan untuk terbang menemui Ibunya. Kau juga punya hak untuk mencintai dan dicintainya. Tapi kadang dua peristiwa harus terjadi di saat yang sama dengan frekuensi yang berbeda, sehingga tidak bisa beresonansi lagi, dan itu di luar kendalimu. Juga kendali Pras. Ada Yang Maha Tinggi dan Berkehendak di atas langit sana.   Maka lepaskanlah sesuatu yang kau tidak bisa lagi mengontrolnya.

Itulah bisikan yang terdengar dalam hatinya.

Berangsur-angsur tangis tengah malam itu mereda, sampai Eda merasa, tidak ada lagi tersisa air mata untuk menyempurnakan dukanya.

Oke, Eda. Sebulan sudah cukup untuk menghukum dirimu sendiri, hidup dalam kegelapan. Lihatlah, matahari terus bersinar sepanjang hari. Tapi dia tidak bertengkar ketika bulan menggantikannya di malam hari. Mereka tetap akur, meski berbeda suasana, tetap beredar di alam, menjalankan fungsinya masing-masing seperti yang diperintahkan Sang Khalik. Burung-burung tetap berkicau di pagi hari, meski anak-anaknya di sarang hilang disambar elang.

Come on, Eda, let’s move on. Kalau kau pasrah, dan percaya Allah sayang padamu, kau akan menemukan kembali keajaiban-keajaiban dari alam semesta. Eda mendengar suara bisikan dari hatinya.

Untuk pertama kali di malam yang hening itu, Eda merasa damai. Ketika dia pejamkan matanya sambil bersujud, dia merasakan ada sejuta kunang-kunang berkelap kelip mengelilingi dirinya.

Life is wonderful if you can always see the bright side of it. Banyak-banyaklah bersyukur, agar bertambah nikmatmu, Eda. Sekali lagi, dia mendengar bisikan itu.

Jumat, 06 Desember 2024

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine _ Part Five

 

kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine


Bunga Wattle dari Tullamarine

PART FIVE

Kejutan Buat Eda

Sudah satu minggu Eda berada di Jakarta. Sejak kedatangannya, langit kota berubah warna jelaga. Awan pekat yang menggantung di langit, berubah menjadi titik-titik air yang membasahi pohon-pohon yang sudah mengering dan tanaman yang meranggas akibat kemarau yang panjang. Hujan yang turun ini menjadi berkah bagi kota Jakarta, menghijaukan kembali tanaman, menurunkan debu-debu polusi yang menggantung di langit kota ke dalam bumi.

Sebulan sebelum kedatangannya kembali ke tanah air, Mamanya jatuh sakit. Perempuan yang lembut dan sangat sayang kepada anak-anaknya, prihatin dan tidak tega melihat kenyataan yang bakal dihadapi Eda dalam hubungannya dengan Mas Pras.

Eda yang sangat sayang kepada Mamanya, selalu tampak ceria di depan beliau. Dia bercerita dengan penuh antusias tentang negeri kangguru, berkabar tentang Mbak Rini yang sukses menjalani operasinya. Juga tentang Mas Agung yang selalu sabar dalam membimbing studi masternya, tentang teman-temannya yang suka mengolok-oloknya.

Kini, Mama sudah berangsur-angsur sembuh dan kelihatan gembira. Setiap pagi, Eda menemaninya mengurus kebun kecil di belakang rumah. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

Wah, alangkah senangnya Mbak Rini kalau tahu koleksi anggreknya Mama sudah bertambah banyak, ya, Ma?” ucap Eda sambil menyerahkan botol semprot hama kepada Ibunya.

Ya, Mbak Rin paling rajin berkebun sejak kecil. Kalau Eda dan Danu senangnya main layang-layang di atas genteng,” ucap Mama berolok-olok, sambil melirik mata ke Eda. Dia hanya bisa nyengir dan seperti biasa memberikan alasannya.

Ya, daripada mengganggu keasyikan Mama dan Mbak Rini ngopeni taneman. Kata Mbak Rini, nanti tanamannya malah mati semua kalau Eda ikut nyirami kebun Mama,” kilah Eda.

Mama tersenyum memandangnya, tahu bahwa, Eda paling tidak sabar berkebun. Dia lebih suka memetik tangkai tanaman yang sudah keluar kuncup bunganya, dan menaruhnya di vas kecil daripada membiarkannya tumbuh di halaman dan menikmatinya seperti yang dilakukan Mbak Rini.

Sore itu, Eda tampak gelisah. Sudah seminggu, terserap waktu dan perhatiannya untuk Mama, berusaha membuat beliau senang. Mama tampak makin sehat. Eda mondar-mandir di depan kamarnya Danu yang terbuka, dan kosong.

Ke mana Mas Danu, ya? Sedang mandikah? pikirnya.

Ketika Danu keluar dari kamar mandi, Eda mengikutinya dari belakang.

Mas Danu sore ini lagi gak ada acara, ‘kan?” tanya Eda.

Ada. Emangnya ada perlu apa, Nduk, Cah Ayu?” sahut Dani sambil terus ngeloyor menuju ke kamar.

Mau ke mana, sih. Boleh Eda ikut?” tanya adiknya.

Gak boleh, rahasia,” balas Dani, masuk ke kamar, sambil menutup pintunya. Eda ikutan masuk.

Terserah Mas Danu mau ke mana. Eda cuma minta waktu sebentar, untuk melanjutkan obrolan kita yang belum selesai. Eda sudah cukup sabar menunggu selama seminggu, menemani Mama!”

Eda berdiri, bersandar di pintu, menutup jalan supaya Danu tidak bisa keluar. Matanya terus dengan tajam mengikuti gerak-gerik kakaknya, membuat Danu kecut dan teringat kembali dengan persoalan Pras.

Begitu pentingkah dan tidak bisa ditunda, Adikku?” pinta Danu, mencoba mengulur waktu.

No way! I can't stand it anymore. Harus dituntaskan!” ucap Eda. Suaranya tegas. Dia kunci pintu kamar Danu, lalu dimasukkan dalam saku celana panjangnya.

Matanya terus mengamati setiap gerakan dan langkah kakaknya, seperti sedang mengamati makhluk aneh yang ada di hadapannya. Danu berpikir keras, bagaimana menuntaskan masalah yang selama ini diam-diam sangat membebaninya. Dia belum menemukan cara terbaik untuk menyampaikannya kepada Eda. Bagaimana membuatnya mengerti dan menerima situasi kondisi yang terjadi dengan kebesaran hatinya.

Ada rasa sedih, kasihan atas kenyataan yang harus dihadapi Eda. Meski dia hanya bisa berharap, adiknya mampu mengatasinya. Apa pun, sekarang atau nanti, Eda toh harus tahu keadaan yang sebenarnya, menghadapinya, merasakan kepedihan untuk sementara, lalu harus bisa move on.

Danu duduk di atas tempat tidurnya, menunduk, berdoa sambil memejamkan matanya.

Wahai Yang Maha Kasih, tolonglah aku. Beri keberanian untuk menyampaikan berita ini kepada Adikku tercinta. Kuatkan dia, dan berilah ganti yang lebih baik. Eda sudah mendesakku. Semoga dia sudah siap menerima kabar ini, apapun akibatnya, sedih atau gembira.

Danu menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dipandangnya adiknya. Isyarat tangannya menyuruh adiknya mendekat. Eda berjalan ke arah Danu dan duduk di sampingnya.

Mas Danu tahu, kan? Eda ingin minta kejelasan tentang kabar Mas Pras. Sudah sejak enam bulan terakhir sebelum Eda pulang, aku terputus kontak dengannya. Aku tahu dia orang lapangan, sering melakukan tugas ke mana-mana. Biasanya dia tetap berkabar, meski hanya mengirim pesan pendek, isyarat lokasi di mana dia sedang berada. Eda tidak tahu di mana dia sekarang,” Eda mulai nyerocos.

I know, something has happened to him. You are his very best friend. Jadi, Mas Danu pasti tahu. Jangan sembunyikan itu dariku. I have the right to know, what’s going on. Apa pun berita tentang Mas Pras, Eda siap mendengarkannya. Eda tahu, ini pasti bukan kabar yang menyenangkan, bukan?” desak Eda.

Danu merangkul adiknya, mengelus-elus punggung Eda. Napasnya satu-satu tertahan. Suasana di kamar Danu jadi hening dan menegangkan. Eda menghadapkan wajahnya ke Danu, melepas rangkulan kakaknya. Dia menunggu dengan sabar kakaknya membuka suara.

Eda, Adikku. Mau kau berjanji sebelum kuceritakan semuanya?” Danu menatap adiknya tanpa berkedip.

Katakan dulu, Eda harus berjanji apa. Kalau Eda mampu, ya kukerjakan. Jangan memaksa Eda melakukan sesuatu yang Eda gak bisa lakukan,” balas Eda diplomatis.

Kalau begitu, Mas Danu tidak bisa menceritakan apa-apa padamu,” sambung Danu.

Lho, ya gak bisa begitu, dong, Mas Danu! It's not fair,” suaranya setengah menjerit.

Well, Eda bisa bertanya kepada teman-teman Mas Pras, atau pergi ke kantornya, atau tanya tantenya yang di Jakarta. Mama sudah sembuh, jadi Eda bisa meninggalkan rumah. Tapi Eda suka mendengar dari Mas Danu, sahabat Mas Pras yang paling dipercaya. Selama ini Eda menahan diri, karena Eda tidak ingin Mama melihat Eda gelisah, sementara beliau masih belum full recovery,” ujar Eda, memandang kakaknya dengan tajam.

Eda jangan mengancam Mas Danu, dong? Aku kan tidak meminta banyak darimu. Kangmas hanya ingin Eda tetap menjadi seorang Eda, Adik yang periang, aktif dan selalu tegar menghadapi segala tantangan. Dan Eda tetap bersikap baik kepada siapa pun,” ucap Danu agak tersendat-sendat.

Come on, Mas Danu. I am not a child anymore. Mas Danu ini, baru ditinggal dua tahun sudah tidak mengenal lagi Eda, Adiknya. Apa Mas Danu yang sudah banyak berubah?” tukas Eda, mulai emosional.

Oke, oke, I’ll tell everything, Sweet Plum,” balas Danu dengan suara pelan. Hening sesaat. Danu menghela napas lagi.

Ibunya Pras sakit sekitar setahun lalu, ada abnormality dalam ritme detak jantungnya. Sempat dirawat di rumah sakit secara intensif. Sangat lambat perkembangan kondisinya, meski ke arah kesembuhan. Pras, masih ada di lapangan, di tempat yang remote, jauh. Komunikasi terbatas dan sulit. Dia baru diberitahu ketika balik dari lapangan. Mendengar kabar itu, dia segera minta izin untuk bisa balik ke Indonesia, menengok ibunya, meski hanya sebentar,” cerita Danu.

Adik tahu, kan? Pras sangat sayang kepada Ibunya. Beliau sudah dibawa pulang, Ada keponakan yang menemani dan merawatnya di rumah,” lanjutnya.

Namun, sesuatu terjadi dengan Pras. Pesawatnya mengalami kecelakaan.”

Danu berhenti bercerita. Dadanya serasa mau pecah. Beberapa kali dia menghela napas panjang. Eda kelihatan tenang, tidak berkata-kata, menunggu Danu. Dia hanya menebak, ke mana ujung cerita itu. Matanya mulai merebak, berkaca-kaca.

Jatuh dalam perjalanan ke Indonesia ketika melintasi Asia Selatan. Saat itu cuaca buruk di malam hari. Jasadnya belum ditemukan, karena jatuh di daerah pegunungan,” sambung Danu.

Ada sedikit lega, Danu sudah menceritakan bagian yang paling tragis ini. Kepalanya menunduk, memejamkan mata mengenang kembali sahabatnya yang menjadi kekasih adiknya semata wayang, yang sangat disayanginya.

Danu masih teringat obrolan dengan Pras ketika mereka naik gunung bersama. Pras membayangkan kelak tubuhnya bersatu dengan alam, damai di ketinggian puncak gunung yang diselimuti salju abadi. Tubuhnya akan tetap utuh, tidak membusuk, abadi.

Itu adalah isyarat dari Pras yang selalu membayangi Danu, membuatnya prihatin ketika adik bungsu yang disayanginya, jatuh cinta dengan sobat dan seniornya di Wanadri ini. Alam semesta telah mendengar doa Pras, dan menunggu kedatangannya dengan setia.

Eda mulai terisak-isak mendengarnya. Danu memeluk kembali Adiknya, melanjutkan akhir cerita sedih ini.

Dua minggu kemudian, Ibunya Pras meninggal,” ucap Danu, lirih. Kerongkongannya sakit, menahan kesedihannya.

Fantastis! Seperti dalam dongeng saja,” suara Eda di antara isakannya.

Kedua kakak beradik ini saling berpandangan. Eda mencoba tersenyum. Tapi hanya senyum pahit yang muncul. Wajahnya menahan kegetiran yang luar biasa. Lidahnya kelu, tenggorokannya seperti tersumbat. Eda merapatkan bibirnya, menahan tangisnya, namun air mata itu mengalir deras. Dipeluknya Kangmasnya sambil sesenggukan. Air matanya membasahi baju Danu.

Inikah akhir lakon cinta yang harus Eda mainkan di panggung kehidupan. I always get everything, except what I really want,” Eda menyanyikan lagu kepedihannya.



Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine-PART TEN

  kata kunci : Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine PART TEN Bunga Wattle dari Tullamarine “ Well, Sir, I think I have to leave. Saya pami...