kata
kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine
Bunga
Wattle dari Tullamarine
PART
SIX
Baju
Danu basah dibanjiri air mata Eda yang deras mengalir bagai air bah.
Dielusnya adiknya dengan lembut dan sayang.
“Katakan
pada Kangmasmu, Cah Ayu.
Apa yang bisa Mas Danu lakukan untuk bisa mengusir kesedihanmu?”
bisik Danu.
“Tidak
ada, tidak ada. Tidak ada lagi yang aku inginkan. Eda sudah tidak
punya apa-apa dan siapa-siapa lagi, dan tidak menginginkan apa-apa
lagi,” jawab Eda, lirih, dan terputus-putus. Masih terdengar
isaknya.
Danu
merasa trenyuh. Eda
yang malang. Adiknya yang selalu memberikan yang terbaik untuk
orang-orang yang disayanginya. Memberikan sayangnya, cintanya,
perhatiannya, sepenuh hatinya, tanpa sisa. Eda pasti hancur dan amat
sangat kehilangan segalanya bila ada yang merenggutnya, oleh nasib,
keadaan dan segala yang di luar kendalinya.
“Mengapa
Mas Danu tidak memberitahu Eda tentang Mas Pras?” ucap Eda. Matanya
sembab dan terasa perih.
“Eda,
Adikku. Bagaimana mungkin Mas Danu berbagi berita yang bahkan bikin
shock
Mas Danu sendiri. Semua begitu mendadak dan tidak terduga. Sementara
Adik lagi mengejar deadline
menyelesaikan tesis. Mbak Rini baru saja masuk Rumah Sakit untuk
operasi kedua kalinya. Kau harus berbagi waktu ngurus studi dan
momong Edo. Sudah terlalu banyak dan berat bebanmu di sana,” tutur
Danu.
Eda
sudah mulai reda isaknya, meski sesekali masih terdengar menarik
napas panjang.
“Begitulah,
nasib telah begitu tertib, dengan lupa kita juga bisa menjadi karib,”
desahnya, pahit.
“Ya,
sedang lumut pada lokan kerak pada
kerang, akan tetap juga di sana, apa pun maknanya,”
lanjut Danu, meneruskan lirik sajaknya Goenawan Mohamad.
Dipeluknya
adiknya dengan erat, penuh rasa sayang, trenyuh.
ikut merasakan kepedihan hati Eda.
“Adik
masih tetap seperti Eda yang kukenal, bukan? Jangan bikin Kangmas
pangling,
dan tidak mengenalmu lagi, ya?” ucap Danu sambil mencubit dagu Eda.
Eda
mengangguk. Sekali lagi, mencoba tersenyum. Senyum kegetiran itu
masih menempel di ujung bibirnya.
***
Sudah
enam bulan Eda kembali ke kantor, back
to routinity. Selama enam bulan itu
dia benar-benar kacau dan terombang-ambing perasaannya. Dia berusaha
keras untuk melupakan segala kenangannya kepada Pras. Namun ingatan
kepada kekasihnya makin mengental. Lamunannya mengembara ke masa
lalu, bagaimana dia bertemu dan jatuh hati kepada sobat dekatnya Kak
Danu.
Pertama
kali jumpa dengan Pras, ketika Mas Danu pulang bersama dua orang
kawan Wanadri, grup pecinta alam di kampusnya. Mas Agung, dari
jurusan Elektro, dan Mas Pras dari Geologi. Danu menyulap garasi
rumah orang tua Danu yang cukup besar menjadir ruang seraba guna.
Ruang untuk menampung teman-teman naik gunungnya untuk tidur,
ngobrol, menaruh perlengkapan naik gunung, dan lain-lain.
Pras
dan Agung adalah dua pribadi yang berbeda karakternya. Mas Agung
orangnya suka ngobrol, ramah, tidak pemalu, sedangkan Mas Pras lebih
pendiam, lebih banyak mendengar. Dia bicara dengan matanya. Dan itu
menarik buat Eda, yang criwis,
tomboy, dan suka debat dengan Mas
Danu, gadis kecil pemberontak. Eda suka misteri.
Eda
diam-diam menyukai Mas Pras. Dia bayangkan, sosok seperti itu yang
pas jadi suaminya. Tidak banyak bicara, tapi matanya tajam, dan
sedikit menakutkan. Eda perlu seseorang yang dia takuti, seperti
Ayahnya. Tentu saja Mas Danu tahu. Mas Agung lebih naksir
ke Mbak Rini yang keibuan. Jadi, akhirnya Mas Agung menikah dengan
Mbak Rini yang penurut itu.
Eda
tahu Mas Pras mencintainya, karena dia selalu mengabarinya, di mana
pun dia berada, kalau lagi tugas lapangan. Pras hanya kirim pesan
pendek. Mereka jarang ketemu. Tapi Eda sangat mencintainya. Cinta
pertamanya, yang selalu melekat abadi dalam hatinya.
Aku
lagi mau masuk hutan, di Kaltim, Eda baik-baik saja, tho? Take care,
pesan Pras. Kadang via email, kadang
via text message.
Pernah
sekali Mas Danu mengajak Eda ngobrol soal hubungannya dengan Pras.
“Dik,
kau suka sama Pras, ya? Gimana
Adik tahu, dia juga sayang sama Adik?” Danu memancing Adiknya.
“Ya,
tahu saja, Eda merasakan getaran yang sama dari Mas Pras. Pokoké
satu frekuensi dan resonansi,” ujar Eda diplomatis, sambil
tersenyum malu.
“Bisa
tunjukkan momen mana kau benar-benar yakin, dia Pras adalah
piliahnmu?”
“Aku
suka kalau Mas Pras putar film dokumenter dari National Geography,
dan sejenisnya. Dia akan menjelaskannya dengan sabar dan semangat,
seperti sedang berbagi cerita dengan Eda,
very knowledgeable. Mas tahu,‘kan?
Eda suka sama cowok
yang pintar. He makes me feel happy
and safe.”
“Ya,
tapi dia sering pergi jauh Dik. Orang lapangan. Kau bakal sering
ditinggal-tinggal,” pancing Danu.
“Ya,
kan, pasti ketemu lagi. Malah bagus,
tho, kangennya
gak ilang-ilang. Baru sebentar
ketemu, sudah pergi. Eda kan jadi ingat terus?” sahut Eda
sekenanya.
“Kamu,
nih, romantis banget. Kau pasti membayangkan seperti di film
klasiknya Meryl Streep dan Robert Redford, ya? ‘Out of Africa’?”
komentar Danu.
“Ya,
exactly.
Mas Pras bawa video itu ke rumah, dan kami melihatnya berdua. Waktu
itu Mas Danu masih di Bandung. Di saat itulah, Eda jatuh cinta
beneran.
Mas Pras telah menyampaikan cinta dan perasaannya kepada Eda dengan
memperlihatkan film itu,” tukas Eda.
Danu
hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapannya. Ada rasa kekhawatiran
menyelinap di dalam hatinya. Membayangkan seperti apa akhir cinta
mereka.
“Apakah
saat itu dia mengucapkan ‘I love
you’, padamu?” Danu penasaran.
“Ehmm,
enggak, tapi matanya mengatakan itu,” balas Eda.
“Hidup
gak
seindah yang kau bayangkan, Dik,” ucap Danu sambil mengusap dan
mengacaukan rambut Adiknya.
“Wis,
pokoké aku percoyo
sama Mas Pras. Dia teman terbaiknya Mas Danu, tho?
Your truly best friend. Someone you
can trust, right?” Eda berbalik
bertanya.
Danu
hanya mengusap kepala adiknya, sambil tersenyum simpul. Tentu saja,
dia penah bertanya langsung kepada Pras, tentang hubungan adiknya
dengan Pras. Sama seperti ketika dia bertanya kepada Agung tentang
perasaannya kepada Rini, Mbakyunya Eda.
***
Satu
bulan pertama adalah perioda yang sangat menyiksa Eda. Hampir tiap
malam dia bermimpi bertemu Pras, yang hanya diam memandangnya. Dan
seluruh air mata tumpah tiada terbendung. Eda hanya bisa bersujud
memohon, Tuhan dapat mengobati lukanya, dan bisa memulai menjalani
kehidupan dengan lebih sehat.
Bukankah
semua sudah terjadi, Eda? Itu namanya takdir. Tidak ada yang salah
dan benar, bukan? Pras punya alasan untuk terbang menemui Ibunya. Kau
juga punya hak untuk mencintai dan dicintainya. Tapi kadang dua
peristiwa harus terjadi di saat yang sama dengan frekuensi yang
berbeda, sehingga tidak bisa beresonansi lagi, dan itu di luar
kendalimu. Juga kendali Pras. Ada Yang Maha Tinggi dan Berkehendak di
atas langit sana. Maka lepaskanlah sesuatu yang kau tidak bisa
lagi mengontrolnya.
Itulah
bisikan yang terdengar dalam hatinya.
Berangsur-angsur
tangis tengah malam itu mereda, sampai Eda merasa, tidak ada lagi
tersisa air mata untuk menyempurnakan dukanya.
Oke,
Eda. Sebulan sudah cukup untuk menghukum dirimu sendiri, hidup dalam
kegelapan. Lihatlah, matahari terus bersinar sepanjang hari. Tapi dia
tidak bertengkar ketika bulan menggantikannya di malam hari. Mereka
tetap akur, meski berbeda suasana, tetap beredar di alam, menjalankan
fungsinya masing-masing seperti yang diperintahkan Sang Khalik.
Burung-burung tetap berkicau di pagi hari, meski anak-anaknya di
sarang hilang disambar elang.
Come
on, Eda, let’s move on. Kalau kau pasrah, dan percaya Allah sayang
padamu, kau akan menemukan kembali keajaiban-keajaiban dari alam
semesta. Eda
mendengar suara bisikan dari
hatinya.
Untuk
pertama kali di malam yang hening itu, Eda merasa damai. Ketika dia
pejamkan matanya sambil bersujud, dia merasakan ada sejuta
kunang-kunang berkelap kelip mengelilingi dirinya.
Life
is wonderful if you can always see the bright side of it.
Banyak-banyaklah bersyukur, agar bertambah nikmatmu, Eda. Sekali
lagi, dia mendengar bisikan itu.