Kamis, 09 Januari 2025

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine - PART NINE

 kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine

PART NINE


Bunga Wattle dari Tullamarine

Small World

Eda mengetuk pintu, lalu Sylvie menariknya masuk. Ruangan itu kosong. Di dinding di belakang meja kerja Papanya Sylvie, banyak terdapat tempelan kertas-kertas gambar anak-anak, hasil coretan Sylvie dan Michel.

Itu siapa yang menggambarnya?” tanya Eda, sambil menunjuk ke dinding.

Sylvie segera berlari ke arah dinding, lalu satu persatu menjelaskan kepada Eda gambar-gambar itu, menyebutkan mana yang dibuat Sylvie, mana yang dibuat adiknya. Sementara Michel masih tetap menggenggam tangan kiri Eda, sekali-sekali tersenyum malu, bergantian memandang ke arah dinding ketika Sylvie menunjuk ke gambar Michel.

Seperempat jam berlalu ketika pintu ruangan terkuak. Seorang laki-laki asing masuk dan berhenti di dekat pintu.

Allô, mes petits! Où ȇtes vous tout à l’heure? Kemana saja, kalian?” suaranya yang ramah menghentikan ocehan Sylvie.

Ketiganya menengok ke arah pintu. Sebuah senyuman terkembang ke arah Eda, senyum yang mengingatkan kembali kepada seseorang, tapi lupa di mana dan siapa dia?

Papa!” Sylvie segera berlari menghampiri laki-laki yang dipanggil Papa ini, lalu memeluknya.

I am sorry, Sir. I am coming here without permission,” ucap Eda, meminta maaf atas kelancangannya.

Not at all, Mademoiselle, not at all,” sambut lelaki ganteng itu dibarengi dengan senyumnya yang ramah dan hangat.

Michel masih menggenggam tangan Eda. Dia tersenyum-senyum ke arah Ayahnya, lalu mengerling malu-malu ke arah Eda. Eda tersenyum penuh kasih, dan mengulurkan tangan Michel, memberi isyarat ke Michel untuk menghampiri Papanya. Lelaki itu memandang Michel yang bermata sendu dengan penuh rasa sayang dan trenyuh. Sebentar, terbesit sinar duka di wajahnya. Ekspresi ini tertangkap oleh mata Eda yang cerdas, dan membuatnya bertanya-tanya dalam hati.

Di mana istrinya? Meninggalkah? Atau berpisah dengannya?

Eda menjelaskan,“Eer, Sylvie and Michel have been in my office since this morning.”

Really? Dan mereka telah mengganggu Anda, bukan?” ujarnya, dalam Bahasa Indonesia, dengan aksen asing.

Non, non, non, Monsieur. They’re nice and cute,” buru-buru Eda menjawab, khawatir laki-laki yang dipanggil Papa ini akan memarahi mereka.

Lelaki itu memandang tajam ke arah Eda, seperti minta diyakinkan kembali atas jawaban Eda. Tatapan tajam itu mengingatkan Eda kepada Mas Pras, ketika sedang serius membicarakan sesuatu. Agak gusar Eda membalas menatapnya, memastikan bahwa dia tidak merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak di ruangan kerjanya.

Secercah senyuman lembut terkembang di sudut bibir laki-laki ganteng itu. Ditatapnya kembali Eda dengan tajam sambil, mengangguk-angguk, seperti teringat sesuatu.

I just remember. We have met before, haven’t we? Kita pernah jumpa, bukan?” tanya laki-laki itu minta diyakinkan.

Eda mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat. Dipandangnya Sylvie, lalu beralih ke Papanya.

Ya, wajah Sylvie mirip sekali dengan Papanya. Ini yang membuatnya kaget tadi pagi. Aku jadi ingat senyumnya. Aku merasa telah melihatnya, tapi siapa dia dan di mana kami bertemu? Ah, terlalu banyak yang aku lupakan semenjak pulang ke Indonesia.

Eda belum berhasil mengingatnya.

We met you in Jakarta, in the aeroplane just before we got off! Don’t you remember?” ujarnya.

Ya, saya ingat sekarang,” balas Eda seperti telah menemukan kembali jawaban teka-tekinya.

Eda teringat kembali pembicaraan singkat mereka di pesawat. Bagaimana lelaki asing ini mengolok-olok Eda yang sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya, Pras. Matanya meredup. Wajah Pras itu tiba-tiba muncul di depannya. Rasa sakit dan sesak kembali merasukinya. Eda menoleh ke jendela. Matanya sedih mengikuti dua burung gereja yang terbang bersama, lalu hinggap di pohon pepaya di luar sana. Sepasang mata laki-laki asing itu mengamatinya dengan tajam perubahan ekspresi Eda.

Apakah dia ditinggal kekasihnya? pikirnya. Hening sejenak.

Small world, n'est ce pas? Dunia kecil, ya?” suara laki-laki itu memecah kesunyian.

Eda mencoba tersenyum, tetapi hanya senyum getir yang muncul. Lelaki ganteng itu lalu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.

I am Alain George René, Just call me Alain,” kata laki-laki itu memperkenalkan diri.

I am Eda Wulandari Sujarwo. Everybody calls me Eda,” balas Eda.

Alain menjabat tangannya erat dan mantap. Senyumnya hangat dan simpatik sekali. Matanya tidak lepas memandang Eda dengan tajam. Lalu diliriknya Michel yang sudah menggandeng tangan kiri Eda lagi, tanpa dia sadari.

Mon Petit Prince, elle est très belle, n’est-ce pas? Dia cantik sekali, ya?” Alain membisikkan kalimat terakhir pelan ke telinga Michel, lalu menjentikkan jarinya ke dagu anak lelakinya.

Michel tersenyum senang, mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan. Eda turut memandangnya trenyuh. Tanpa sadar dielusnya kepala Michel dengan penuh rasa sayang, lalu diserahkannya kepada Papanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine-PART TEN

  kata kunci : Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine PART TEN Bunga Wattle dari Tullamarine “ Well, Sir, I think I have to leave. Saya pami...