kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine
PART EIGHT
Eda berhenti menulis dan memandang ke arah dua makhluk kecil ini bergantian. Seolah tidak yakin akan apa yang didengarnya. Mereka membalas menatapnya, seolah menunggu jawaban ‘YA’ dari Eda. Pandangan yang polos dan penuh harap itu membuat Eda jatuh hati dan tidak tega menolaknya.
“Baiklah. Tapi Sylvie dan Michel berjanji untuk bersikap manis di kelas, ya? Mendengarkan dengan tenang dan tidak berisik?” Eda memberi prasyarat. Dalam hati geli, bagaimana mungkin mereka mengerti apa yang akan disampaikannya di kelas nanti.
Mereka berdua mengangguk senang, dan melanjutkan menggambar lagi. Sekali-sekali mereka memandang Eda yang sedang asyik menulis, seakan sudah tidak sabar menunggu masuk kelas.
Akhirnya, tiba saatnya Eda mengajar. Sepanjang jalan menyusuri koridor menuju ruang kelas, Sylvie dan Michel bercanda dengan riang. Mereka berjalan di belakang Eda. Kadang mereka berhenti, bertanya bila melihat sesuatu yang menarik, sambil menunjuk.
Kelas seketika menjadi tenang kembali ketika Eda masuk. Mereka kaget dan bertanya-tanya melihat Eda masuk diikuti dua anak bule yang lucu-lucu.
“Selamat siang saudara. Hari ini ada dua murid kecil akan mengikuti kuliah kita. Terlalu kecil, ya? Tapi Mereka sudah berjanji tidak akan mengganggu acara belajar-mengajar kita, kok,” kata Eda kepada mahasiswanya sambil menyuruh Sylvie dan Michel duduk di bangku paling depan di sebelah kanan.
Kedua kakak beradik ini duduk dengan tenang mendengarkan Eda. Mata mereka tidak lepas menatap Eda, mengikut setiap gerakan langkahnya sambil keheran-heranan, tidak mengerti apa yang dikatakan Eda dalam bahasa yang tidak dikenal mereka. Bahasa yang berbeda sama sekali dengan apa yang mereka ucapkan ketika berada di ruang kerja Eda.
Sekali-sekali kedua kakak beradik ini saling berpandangan, lalu sama-sama mengangkat bahu dan tersenyum sambil menutup mulut mereka. Kuliah yang berjalan 100 menit nonstop itu selesai juga akhirnya. Eda keluar diikuti Sylvie dan Michel di belakangnya.
“Mengapa Eda bicara dalam bahasa yang Sylvie tidak mengerti?” tanya Sylvie.
Eda menjelaskan, “Ya, kalau Eda bicara dalam bahasa Prancis, mereka tidak mengerti, Sylvie. Mereka tidak belajar bicara bahasamu. Ici, on parles l’Indonésien, Sylvie,” tutur Eda.
Eda kembali ke ruangannya. Sylvie dan Michel masih mengikutinya. Setiap orang yang berpapasan memandang dengan bertanya-tanya.
“Siapa mereka, Da?” tanya Ardie yang berjalan memotongnya.
“Tidak tahu. Pagi-pagi, kurcaci-kurcaci kecil ini mengetuk pintu ruanganku. Terus mengikutiku sampai sekarang,” ujar Eda.
“Wah, jangan-jangan, Bapaknya katut kamu juga, Da?” ledek Ardie.
“Husyy, ojok ngono, Cak. Ntar ada malaikat liwat, diamini ucapanmu. Dilaporné Bos di langit sana. Lhak repot, aku, Cak,” seru Eda sambil mengarahkan telunjuknya ke atas.
Sampai di ruangan Eda, dua kurcaci kecil ini langsung duduk di kursi, melanjutkan menggambar lagi. Eda mengamati mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Anak kecil di mana-mana sama. Kalau sudah menemukan keasyikan dan merasa aman, mereka lupa kalau ditunggu orang tuanya. Mungkin sekarang ini Papanya sudah gelisah dan cemas mencari-cari mereka,” gumam Eda.
“Sylvie, Michel, kalian tadi datang ke tempat ini sama siapa?” Eda mencoba mengingatkan mereka kepada orang tuanya.
“Kami datang dengan Papa,” sahut Sylvie sambil terus menggambar.
“Di mana Papamu sekarang?” tanya Eda.
“Di kantornya, là bas! Di sana!” sambung Sylvie sambil menunjuk ke arah kanan jendela, ke deretan gedung-gedung di ujung sana.
“Papamu pasti sedang mencarimu. Dari pagi sampai sekarang, kalian ada di sini. Sekarang sudah lewat jam 12.00. Yuk, Eda antar kembali menyusul Papa?” bujuk Eda.
“Tidak. Tadi Papa bilang, kita boleh main sampai jam satu,” sahut Sylvie, menolak ajakan Eda.
Eda tidak tega memaksa mereka. Dikeluarkannya roti bekal makan siangnya dan dibagikannya sepotong-sepotong kepada mereka. Dibuatkannya dua gelas susu coklat dari dapur kecil yang ada di sebelah ruangannya. Mereka langsung melahap roti itu dengan semangat. Pasti sudah kelaparan.
“Oke, kita tunggu jam satu, ya? Kalian abisin kue dan minum cokelat itu,” ucapnya.
Sambil menunggu mereka makan, Eda membereskan kertas-kertas yang berserak di meja kecil yang sudah penuh dengan coretan-coretan gambar mereka.
Betapa indahnya masa kanak-kanak. Mereka adalah pemain teater panggung kehidupan yang sejati. Anak-anak mereguk dunia sepenuhnya, tanpa ragu-ragu dan setengah-setengah. Total, intense, dengan seluruh jiwa raga, tidak pura-pura. Mereka menangis sekeras-kerasnya, tapi juga tertawa dan gembira sepenuhnya. Tidak ditahan-tahan seperti orang dewasa. Masa kanak-kanak adalah sebuah surga yang hilang ketika kita menginjak alam dewasa.
Eda memandangi dua kurcaci kecil ini dengan keharuan yang luar biasa. Ada rasa sakit menjalar perih di tubuhnya. Rasa kehilangan itu muncul kembali ketika menatap ekspresi polos yang memancarkan keriangan dan suka cita pada wajah Sylvie. Sudah hampir setahun sejak dia pulang dari Australia dan menjalani kehidupan rutin kembali, kerja, kerja, menenggelamkan diri dari kesibukannya di kampus.
Ditatapnya Michel yang selalu tersenyum malu-malu. Matanya yang melankolik, seperti merindukan sesuatu.
Setelah menghabiskan minum, Eda membujuk mereka keluar dan mengajaknya berjalan ke arah gedung yang ditunjuk Sylvie sebagai tempat Papanya bekerja. Sambil bercerita sepanjang jalan, Eda menggandeng Michel dan Sylvie memasuki gedung itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar