Jumat, 06 Desember 2024

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine _ Part Five

 

kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine


Bunga Wattle dari Tullamarine

PART FIVE

Kejutan Buat Eda

Sudah satu minggu Eda berada di Jakarta. Sejak kedatangannya, langit kota berubah warna jelaga. Awan pekat yang menggantung di langit, berubah menjadi titik-titik air yang membasahi pohon-pohon yang sudah mengering dan tanaman yang meranggas akibat kemarau yang panjang. Hujan yang turun ini menjadi berkah bagi kota Jakarta, menghijaukan kembali tanaman, menurunkan debu-debu polusi yang menggantung di langit kota ke dalam bumi.

Sebulan sebelum kedatangannya kembali ke tanah air, Mamanya jatuh sakit. Perempuan yang lembut dan sangat sayang kepada anak-anaknya, prihatin dan tidak tega melihat kenyataan yang bakal dihadapi Eda dalam hubungannya dengan Mas Pras.

Eda yang sangat sayang kepada Mamanya, selalu tampak ceria di depan beliau. Dia bercerita dengan penuh antusias tentang negeri kangguru, berkabar tentang Mbak Rini yang sukses menjalani operasinya. Juga tentang Mas Agung yang selalu sabar dalam membimbing studi masternya, tentang teman-temannya yang suka mengolok-oloknya.

Kini, Mama sudah berangsur-angsur sembuh dan kelihatan gembira. Setiap pagi, Eda menemaninya mengurus kebun kecil di belakang rumah. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

Wah, alangkah senangnya Mbak Rini kalau tahu koleksi anggreknya Mama sudah bertambah banyak, ya, Ma?” ucap Eda sambil menyerahkan botol semprot hama kepada Ibunya.

Ya, Mbak Rin paling rajin berkebun sejak kecil. Kalau Eda dan Danu senangnya main layang-layang di atas genteng,” ucap Mama berolok-olok, sambil melirik mata ke Eda. Dia hanya bisa nyengir dan seperti biasa memberikan alasannya.

Ya, daripada mengganggu keasyikan Mama dan Mbak Rini ngopeni taneman. Kata Mbak Rini, nanti tanamannya malah mati semua kalau Eda ikut nyirami kebun Mama,” kilah Eda.

Mama tersenyum memandangnya, tahu bahwa, Eda paling tidak sabar berkebun. Dia lebih suka memetik tangkai tanaman yang sudah keluar kuncup bunganya, dan menaruhnya di vas kecil daripada membiarkannya tumbuh di halaman dan menikmatinya seperti yang dilakukan Mbak Rini.

Sore itu, Eda tampak gelisah. Sudah seminggu, terserap waktu dan perhatiannya untuk Mama, berusaha membuat beliau senang. Mama tampak makin sehat. Eda mondar-mandir di depan kamarnya Danu yang terbuka, dan kosong.

Ke mana Mas Danu, ya? Sedang mandikah? pikirnya.

Ketika Danu keluar dari kamar mandi, Eda mengikutinya dari belakang.

Mas Danu sore ini lagi gak ada acara, ‘kan?” tanya Eda.

Ada. Emangnya ada perlu apa, Nduk, Cah Ayu?” sahut Dani sambil terus ngeloyor menuju ke kamar.

Mau ke mana, sih. Boleh Eda ikut?” tanya adiknya.

Gak boleh, rahasia,” balas Dani, masuk ke kamar, sambil menutup pintunya. Eda ikutan masuk.

Terserah Mas Danu mau ke mana. Eda cuma minta waktu sebentar, untuk melanjutkan obrolan kita yang belum selesai. Eda sudah cukup sabar menunggu selama seminggu, menemani Mama!”

Eda berdiri, bersandar di pintu, menutup jalan supaya Danu tidak bisa keluar. Matanya terus dengan tajam mengikuti gerak-gerik kakaknya, membuat Danu kecut dan teringat kembali dengan persoalan Pras.

Begitu pentingkah dan tidak bisa ditunda, Adikku?” pinta Danu, mencoba mengulur waktu.

No way! I can't stand it anymore. Harus dituntaskan!” ucap Eda. Suaranya tegas. Dia kunci pintu kamar Danu, lalu dimasukkan dalam saku celana panjangnya.

Matanya terus mengamati setiap gerakan dan langkah kakaknya, seperti sedang mengamati makhluk aneh yang ada di hadapannya. Danu berpikir keras, bagaimana menuntaskan masalah yang selama ini diam-diam sangat membebaninya. Dia belum menemukan cara terbaik untuk menyampaikannya kepada Eda. Bagaimana membuatnya mengerti dan menerima situasi kondisi yang terjadi dengan kebesaran hatinya.

Ada rasa sedih, kasihan atas kenyataan yang harus dihadapi Eda. Meski dia hanya bisa berharap, adiknya mampu mengatasinya. Apa pun, sekarang atau nanti, Eda toh harus tahu keadaan yang sebenarnya, menghadapinya, merasakan kepedihan untuk sementara, lalu harus bisa move on.

Danu duduk di atas tempat tidurnya, menunduk, berdoa sambil memejamkan matanya.

Wahai Yang Maha Kasih, tolonglah aku. Beri keberanian untuk menyampaikan berita ini kepada Adikku tercinta. Kuatkan dia, dan berilah ganti yang lebih baik. Eda sudah mendesakku. Semoga dia sudah siap menerima kabar ini, apapun akibatnya, sedih atau gembira.

Danu menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dipandangnya adiknya. Isyarat tangannya menyuruh adiknya mendekat. Eda berjalan ke arah Danu dan duduk di sampingnya.

Mas Danu tahu, kan? Eda ingin minta kejelasan tentang kabar Mas Pras. Sudah sejak enam bulan terakhir sebelum Eda pulang, aku terputus kontak dengannya. Aku tahu dia orang lapangan, sering melakukan tugas ke mana-mana. Biasanya dia tetap berkabar, meski hanya mengirim pesan pendek, isyarat lokasi di mana dia sedang berada. Eda tidak tahu di mana dia sekarang,” Eda mulai nyerocos.

I know, something has happened to him. You are his very best friend. Jadi, Mas Danu pasti tahu. Jangan sembunyikan itu dariku. I have the right to know, what’s going on. Apa pun berita tentang Mas Pras, Eda siap mendengarkannya. Eda tahu, ini pasti bukan kabar yang menyenangkan, bukan?” desak Eda.

Danu merangkul adiknya, mengelus-elus punggung Eda. Napasnya satu-satu tertahan. Suasana di kamar Danu jadi hening dan menegangkan. Eda menghadapkan wajahnya ke Danu, melepas rangkulan kakaknya. Dia menunggu dengan sabar kakaknya membuka suara.

Eda, Adikku. Mau kau berjanji sebelum kuceritakan semuanya?” Danu menatap adiknya tanpa berkedip.

Katakan dulu, Eda harus berjanji apa. Kalau Eda mampu, ya kukerjakan. Jangan memaksa Eda melakukan sesuatu yang Eda gak bisa lakukan,” balas Eda diplomatis.

Kalau begitu, Mas Danu tidak bisa menceritakan apa-apa padamu,” sambung Danu.

Lho, ya gak bisa begitu, dong, Mas Danu! It's not fair,” suaranya setengah menjerit.

Well, Eda bisa bertanya kepada teman-teman Mas Pras, atau pergi ke kantornya, atau tanya tantenya yang di Jakarta. Mama sudah sembuh, jadi Eda bisa meninggalkan rumah. Tapi Eda suka mendengar dari Mas Danu, sahabat Mas Pras yang paling dipercaya. Selama ini Eda menahan diri, karena Eda tidak ingin Mama melihat Eda gelisah, sementara beliau masih belum full recovery,” ujar Eda, memandang kakaknya dengan tajam.

Eda jangan mengancam Mas Danu, dong? Aku kan tidak meminta banyak darimu. Kangmas hanya ingin Eda tetap menjadi seorang Eda, Adik yang periang, aktif dan selalu tegar menghadapi segala tantangan. Dan Eda tetap bersikap baik kepada siapa pun,” ucap Danu agak tersendat-sendat.

Come on, Mas Danu. I am not a child anymore. Mas Danu ini, baru ditinggal dua tahun sudah tidak mengenal lagi Eda, Adiknya. Apa Mas Danu yang sudah banyak berubah?” tukas Eda, mulai emosional.

Oke, oke, I’ll tell everything, Sweet Plum,” balas Danu dengan suara pelan. Hening sesaat. Danu menghela napas lagi.

Ibunya Pras sakit sekitar setahun lalu, ada abnormality dalam ritme detak jantungnya. Sempat dirawat di rumah sakit secara intensif. Sangat lambat perkembangan kondisinya, meski ke arah kesembuhan. Pras, masih ada di lapangan, di tempat yang remote, jauh. Komunikasi terbatas dan sulit. Dia baru diberitahu ketika balik dari lapangan. Mendengar kabar itu, dia segera minta izin untuk bisa balik ke Indonesia, menengok ibunya, meski hanya sebentar,” cerita Danu.

Adik tahu, kan? Pras sangat sayang kepada Ibunya. Beliau sudah dibawa pulang, Ada keponakan yang menemani dan merawatnya di rumah,” lanjutnya.

Namun, sesuatu terjadi dengan Pras. Pesawatnya mengalami kecelakaan.”

Danu berhenti bercerita. Dadanya serasa mau pecah. Beberapa kali dia menghela napas panjang. Eda kelihatan tenang, tidak berkata-kata, menunggu Danu. Dia hanya menebak, ke mana ujung cerita itu. Matanya mulai merebak, berkaca-kaca.

Jatuh dalam perjalanan ke Indonesia ketika melintasi Asia Selatan. Saat itu cuaca buruk di malam hari. Jasadnya belum ditemukan, karena jatuh di daerah pegunungan,” sambung Danu.

Ada sedikit lega, Danu sudah menceritakan bagian yang paling tragis ini. Kepalanya menunduk, memejamkan mata mengenang kembali sahabatnya yang menjadi kekasih adiknya semata wayang, yang sangat disayanginya.

Danu masih teringat obrolan dengan Pras ketika mereka naik gunung bersama. Pras membayangkan kelak tubuhnya bersatu dengan alam, damai di ketinggian puncak gunung yang diselimuti salju abadi. Tubuhnya akan tetap utuh, tidak membusuk, abadi.

Itu adalah isyarat dari Pras yang selalu membayangi Danu, membuatnya prihatin ketika adik bungsu yang disayanginya, jatuh cinta dengan sobat dan seniornya di Wanadri ini. Alam semesta telah mendengar doa Pras, dan menunggu kedatangannya dengan setia.

Eda mulai terisak-isak mendengarnya. Danu memeluk kembali Adiknya, melanjutkan akhir cerita sedih ini.

Dua minggu kemudian, Ibunya Pras meninggal,” ucap Danu, lirih. Kerongkongannya sakit, menahan kesedihannya.

Fantastis! Seperti dalam dongeng saja,” suara Eda di antara isakannya.

Kedua kakak beradik ini saling berpandangan. Eda mencoba tersenyum. Tapi hanya senyum pahit yang muncul. Wajahnya menahan kegetiran yang luar biasa. Lidahnya kelu, tenggorokannya seperti tersumbat. Eda merapatkan bibirnya, menahan tangisnya, namun air mata itu mengalir deras. Dipeluknya Kangmasnya sambil sesenggukan. Air matanya membasahi baju Danu.

Inikah akhir lakon cinta yang harus Eda mainkan di panggung kehidupan. I always get everything, except what I really want,” Eda menyanyikan lagu kepedihannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine-PART TEN

  kata kunci : Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine PART TEN Bunga Wattle dari Tullamarine “ Well, Sir, I think I have to leave. Saya pami...