kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine
Bunga Wattle dari Tullamarine
PART FOUR
“I am so excited, Sir. Just like a dream. I am coming home!” jawab Eda, seolah ingin berbagi kegembiranaanya dengan orang asing yang tampak friendly ini.
“How long have you been leaving your country?” tanya bule ganteng ini.
“Over two years, Sir,” sahut Eda.
“Two years? It’s a long time, don’t you think? You must miss your family a lot. Especially your boy friend, huh?! sahutnya sambil melirik Eda dengan pandangan jenaka, berolok-olok.
Eda hanya tersenyum, pipinya memerah
. Dia beranjak dari tempat duduknya, berjalan di belakang laki-laki dan dua orang anaknya, di gang di antara deretan kursi-kursi pesawat.
Mereka berjalan beriringan menuju ke bagian imigrasi sambil melanjutkan obrolan ringan tentang perjalanan holiday di Indonesia. Dari percakapan itu, Eda tahu, laki-laki itu berkebangsaan Australia. Namun, mengapa aksennya Prancis? Eda ingin menanyakan, tapi ragu. Eda merekomendasikan tempat-tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Laki-laki itu memperhatikan sarannya. Di depan bagian imigrasi, mereka berpisah.
“Au revoir, Monsieur. Sampai jumpa lagi?“ ucap Eda, mempraktekan bahasa Prancis yang dipelajarinya ketika SMA.
“Au revoir, Mademoiselle,” balasnya, sedikit surprise, Eda berbahasa Prancis.
Perjalanan Eda sampai di muara meja imigrasi, bergabung di antrean. Sore ini, tidak seperti biasa. Banyak sekali turis yang datang dari mancanegara. Ada rombongan turis Jepang dan Canada. Juga rombongan umroh yang jumlahnya cukup besar.
Penumpang bergabung dalam antrean panjang untuk pemeriksaan paspor. Setelah setengah jam menunggu, Eda keluar menuju ke tempat pengambilan bagasi. Sudah banyak orang berkerumun di sekitar conveyor, menunggu koper mereka. Akhirnya, koper besar Eda muncul. Eda menaruh semua barang di trolly, kemudian berjalan menuju pintu exit.
Eda terus berjalan melewati barisan para penjemput yang berdiri di balik pembatas jalur penumpang. Dia belum melihat Mas Danu, kakaknya. Di ujung deretan penjemput, Eda baru melihatnya melambaikan tangan. Eda hanya melihatnya sendirian, tidak dengan Pras.
“Aman, Dik, kopermu, gak dibuka?” tanya Danu.
Eda menggeleng, masih memikirkan Pras yang tidak tampak batang hidungnya. Danu menyambut Eda dan memeluknya.
“Beruntung kau. Penumpang itu menggerutu kopernya diaduk-aduk,” ujar Danu sambil menunjuk penumpang yang sedang berjalan menjauhi mereka.
“Oh, aku cuma mengedipkan mata kiriku yang kelilipan, lalu kuberi senyuman manis sekali kepada petugas,” jawab Eda bercanda.
“Petugas itu tahu. Adik ini tampang miskin dan tidak punya barang berharga di koper! Lha wong pergi ke LN saja diongkosi negara!” tukas Danu.
“Ya, bagus, tho? Diongkosi negara itu tandanya Eda cukup pintar dan bonafide untuk mendapat kesempatan dibayari negoro hehehe …,” Eda membela diri.
Kedua kakak beradik ini berjalan menuju ke selasar, berhenti menunggu. Tak lama kemudian, Pak Wahyo meluncur dengan mobil Toyota, dan berhenti di depan mereka.
“Pak Wahyo masih ingat Eda, kan?” sambut Eda kepada Pak Wahyo yang hampir 20 tahun setia bekerja di rumah orang tua Eda.
“Pak Wahyo pangling. Non Eda tambah cantik,” jawab Pak Wahyo dengan suara lugu.
“Uuuh, Pak Wahyo, nih, bikin Eda hidungnya kembang kempis saja!” seru Danu.
“Pak Wahyo selalu jujur memeberikan pendapatnya. Mas Danu saja yang sentimen sama Eda. Betul, kan, Pak Wahyo?” seru Eda. Pak Wahyo mengangguk-angguk mengiyakan.
“Kalau Mas Danu sentimen, nggak akan jemput kamu, Nyong!” tukas Danu sambil dengan gemas dipijitnya pipi adiknya yang kemerahan seperti buah plum muda.
“Dari sejak kecil, Mas Danu dan Non Eda ini selalu kerah, bertengkar. Tapi sebentar juga akur lagi,” ujar Pak Wahyo sambil geleng-geleng kepala.
“Kerah nanging akur, piyé, tho, Pak Wahyo? Aku bingung, lho?“ canda Danu.
“Iih, Mas Danu ini,” ucap Eda sambil mencubit lengan Danu keras sekali, sampai dia meringis. Khas Eda kalau diledek kakak-kakaknya.
Senja sudah mulai turun. Lampu-lampu jalan sudah mulai menyala. Demikian juga kelap-kelip lampu dari papan-papan reklame ikut semarakkan kota yang tidak pernah tidur itu. Kendaraan meluncur melalui jalan tol.
“Tadi, lama banget, ya Dik. Hampir dua jam Mas Danu menunggu. Lima menit lagi, Adik nggak muncul, aku tinggal pulang, kau,” kata Danu mulai lagi dengan ocehannya.
“Ah, tidak dijemput Mas Danu, gak pathèken. Eda bisa telepon Mas Pras ke kantornya,” sergah Eda gak mau kalah.
“Dijemput Pras? Dia lagi gak ada di sini!” tukas Danu. Dia kaget dengan ucapannya.
“What?! Mas Pras gak ada di Jakarta? Di mana, dia?” Eda terloncat kaget dan mendesak Danu dengan pertanyaannya.
“Pras lagi survei di lapangan. Di Sumatra, Simalungun?” Danu menjawab agak gugup, mulai khawatir. Eda yang cerdas itu akan terus mendesaknya.
“Sejak kapan, berapa lama? Kenapa nggak kasih tahu Eda?” desak Eda.
“Hmmm, sejak balik dari UK. Crash program katanya,” sahut Danu. Suaranya agak tersendat-sendat. Eda menangkap nada suara Danu yang meragukan.
“Mas Danu tahu alamatnya di Simalungun sana?” desak Eda
“Ah, nantilah kita teruskan obrolan ini di rumah,” Danu mengunci percakapan mereka.
Di dekat STM Penerbangan, Pak Wahyo membelokkan kendaraan ke kiri dan berhenti sebelum tikungan. Mereka sampai di tempat tinggal orang tuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar