Senin, 02 Desember 2024

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine (PART THREE)

 


kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine



Bunga Wattle dari Tullmarine

PART THREE

Pras Tidak Menjemputnya

Eda mencari tempat duduknya. Yamaha keyboard yang dibawanya sedikit kebesaran untuk bisa disimpan di lemari di atas tempat duduknya. Eda memang sengaja membawanya ke kabin, tidak di bagasi, takut terbanting-banting dan tertindih koper-koper lainnya. Dia tidak sempat membungkusnya dengan baik dan aman. Pramugara Qantas yang melihatnya kebingungan, membantunya mencarikan tempat yang safe untuk keyboard-nya.

Sepasang orang bule muda yang duduk di sampingnya tersenyum ramah. Mereka lagi asyik memandang ke luar jendela ketika Eda datang. Tampak mesra sekali. Yang wanita menggandeng lengan pacarnya. Eda jadi ingat Mas Pras, kekasihnya yang sudah dua tahun lebih berpisah darinya.

Prasetyo, lebih akrab dipanggil Pras, adalah kakak kelas Mas Danu. Bertiga, Mas Danu, Mas Agung dan Mas Pras adalah sobat dekat sejak zaman kuliah. Mereka adalah senior Wanadri, grup pecinta alam, para pendaki gunung.

Eda bertemu dengan Pras untuk pertama kali di rumah orang tua, di Jakarta. Waktu itu dia masih di kelas tiga SMA. Mereka, teman-teman Mas Danu, suka singgah di rumah mereka ketika pulang dari kegiatan mendaki gunung di luar Jawa, atau di negeri manca.

Eda yang dekat dengan Mas Danu, ingin sekali bisa masuk di Wanadri, kelak kalau dia melanjutkan studi di kampus yang sama. Tentu saja, Mas Danu melarangnya. Eda suka sekali mendengar obrolan mereka di garasi rumah, tempat kumpul mereka. Diam-diam rasa kagumnya kepada Pras tumbuh menjadi benih-benih cinta.

Aku berharap, Mas Pras bisa menjemputku di Cengkareng nanti? pikir Eda.

Eda hanya bisa berharap. Mas Pras, seorang explorer, geologist, sering mengerjakan proyek di luar Jawa, di tempat-tempat yang terpencil. Eda sadar, tidak bisa mengharapkan Mas Pras bakal ada di Jakarta ketika dia pulang.

Pesawat Qantas F87 sudah bersiap-siap take off. Moncongnya mendongak, bergerak menembus awan, menggetarkan hati Eda, menyeretnya pada kenangan lama, saat dia hendak melanjutkan studi ke Australia. Itu terjadi, tepat satu semester setelah Mas Pras mendapat tawaran bergabung dengan tim eksplorasi di UK selama dua tahun.

Saat itu, Eda diliputi kebimbangan, antara berangkat ke Australia, atau tidak. Dia sangat mengharapkan Mas Pras akan meminangnya, membawanya ke UK, dan dia bisa melanjutkan studi magister di sana, yang katanya bisa ditempuh dalam satu tahun. Namun itu tidak terjadi. Pras berjanji akan mengabarinya kalau sudah sampai di sana.

Firasatnya seperti berbisik: Eda akan kehilangan Mas Pras bila memutuskan pergi melanjutkan studi. Berarti baru tahun ketiga, mereka bisa bertemu kembali. Kalau Allah mengizinkan. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Anything can happen, sesuatu bisa terjadi, dalam kurun waktu selama itu.

Namun, desakan untuk berangkat studi ke Australia datang dari kiri kanan, dari keluarga, teman-teman, dan bahkan bosnya sendiri, begitu kuatnya, bagai sebuah keniscayaan. Ini adalah sebuah kesempatan yang sangat baik, yang tidak semua orang bisa memperolehnya. Eda tidak berdaya menolaknya. Everything has been well arranged and organized. Semuanya sudah diatur.

Kantornya sibuk mengurus segala keperluan Eda untuk studinya, dari urusan paspor, tiket pesawat, cek kesehatan, izin dari Kementerian Pendidikan. Bahkan, Mama bantu menyiapkan barang-barang yang harus dibawa: baju hangat, souvenir, titipan untuk Mbak Rini dan perlengkapan lainnya. Semuanya sudah disiapkan dengan rapi.

Yang membuat Eda tidak bisa menolak adalah permintaan Mama untuk mengambil kesempatan ini, karena di Melbourne, Eda bisa bertemu dengan Mbak Rini yang mendampingi suaminya studi doktoral di universitas yang sama. Mamanya berharap, Eda bisa sambil menemani Mbak Rini yang saat itu sedang dalam persiapan menjalani operasi besar karena ada kelainan pada uterusnya. Ibunya sangat mengkhawatirkan kondisi Mbak Rini yang memang lemah fisiknya. Tidak seperti Eda yang meski kecil, tapi tampak tegar, sehat, dan gesit.

Dari kecil, aku merasa tidak boleh memilih jalanku sendiri. Semua sudah disiapkan untukku. Aku tinggal menjalaninya tanpa boleh berkata ‘tidak’. Aku tahu, mereka melakukan semuanya, karena mereka sayang kepadaku. Bukan sebaliknya. Dan itu yang selalu membuatku tidak berdaya untuk menolaknya.

Aku memang selalu mendapatkan yang terbaik, meskipun tidak selalu yang aku inginkan atas pilihanku sendiri. Untuk orang-orang yang aku sayangi, aku selalu melakukan yang terbaik.

Aku ini bagaikan Kumbakarna yang tidak boleh memilih nasibnya sendiri, menjadi seorang otoritarian, melakukan segalanya atas kesadaran yang tumbuh dari faktor exogen, dari orang-orang yang aku cintai dan sayangi. Aku tidak ingin menyakiti mereka. Dan inilah kelemahan, sekaligus kelebihan yang aku miliki.

Angan Eda mengembara, menembus ruang dan waktu.

***

Perjalanan Melbourne – Jakarta ditempuh kurang lebih delapan jam, cukup melelahkan. Eda berusaha tidur dan melupakan segala kegalauannya. Bayangan wajah Mas Pras lamat-lamat hadir dan menari-nari di hadapannya. Rasa kangennya yang teramat sangat kepada kekasihnya itu membuat dadanya sesak. Rasa was-was, gelisah, bercampur suka cita menunggu saat pertemuan dengannya, membuatnya makin galau hatinya.

Mas Pras, bertambah berat karena banyak makan daging dan kejukah? Atau masih atletis dan langsing seperti dulu? pikir Eda, membayangkan kekasihnya.

Pesawat Eda transit di Denpasar selama setengah jam, menurunkan rombongan bule-bule yang akan menghabiskan liburan musim panas di Pulau Dewata yang indah. Pasangan muda di sebelah Eda juga turun di sini. Hampir dua pertiga penumpangnya yang mayoritas orang asing itu turun di Denpasar. Pesawat serta merta hampir kosong.

Namun demikian, ada juga turis yang naik ke pesawat menuju ke Jakarta. Mungkin mereka baru pulang dari liburannya. Bali, namanya lebih terkenal dari Indonesia, adalah tujuan wisata yang sangat populer bagi orang asing, terutama dari Australia.

Have a nice holiday,” ucap Eda kepada mereka.

Thank you,” jawab yang perempuan muda itu disertai senyumnya yang manis.

You must be happy to be home again,” imbuh laki-laki muda itu.

Yes, of course,” balas Eda, sambil tersenyum memberi jalan kepada mereka.

Jam 3.30 pm, pesawat F87 yang ditumpangi Eda perlahan menurunkan ketinggiannya. Gugusan pulau-pulau kecil di Utara Laut Jawa, tampak bagaikan kerumunan semut dengan warna hijau dan coklat di atas permadani laut biru yang tenang.

Pramugari memberitahu persiapan landing, memeriksa seatbelt dan sandaran kursi. Akhirnya, roda pesawat dengan mulus menyentuh landasan runway, lalu perlahan berjalan menuju apron dan berhenti. Eda menebarkan pandangannya di luar jendela. Gerimis kecil jatuh membasahi ibukota.

Sedang mimpikah aku? Atau benar-benar sudah kembali ke tanah air tercinta?

Eda bertanya-tanya seolah tidak yakin dia sudah mendarat di Jakarta.

Don’t you want to get off here, Young Lady?” sapa seorang laki-laki asing yang berdiri di gang, di antara tempat duduk. Dia ucapkan bahasa Inggris itu dengan aksen Prancis. Mungkin sekitar 35-40 tahun, ganteng. Mengingatkannya kepada Al Pacino, bintang film Amerika asal Italia, namun garis-garis wajahnya lebih lembut dan ramah.

Dua orang anak kecil, laki-laki dan perempuan mengikuti di belakangnya. Mata mereka yang indah dan berwarna biru memandang Eda dengan penuh rasa ingin tahu, sambil tersenyum ke arahnya, sedikit tersipu. Eda tersenyum. Lalu memandang kembali ke wajah lelaki yang menyapanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine-PART TEN

  kata kunci : Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine PART TEN Bunga Wattle dari Tullamarine “ Well, Sir, I think I have to leave. Saya pami...