Senin, 13 Januari 2025

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine-PART TEN

 kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine

PART TEN

Bunga Wattle dari Tullamarine

Well, Sir, I think I have to leave. Saya pamit. It’s very nice to meet you. Senang berjumpa dengan Anda,” pamit Eda.

I am glad to meet you, too. Mademoiselle Eda,” lelaki itu membalas ramah, dan mengantar Eda sampai ke pintu.

Eda melambaikan tangannya ke arah anak-anak kecil ini, “Good bye Michel. Good bye Sylvie.”

Baru beberapa langkah dia berjalan, Sylvie berteriak memanggilnya.

Eda, boleh kami main lagi?” tanya Sylvie dalam bahasa Ibunya.

Eda menoleh ke belakang, memandang ke arah mereka kembali.

Bien sur ma petite amie. Tentu saja, teman kecilku. You are welcome,” jawab Eda lalu berbalik melanjutkan langkahnya.

Semenjak kedatangan Sylvie dan Michel, ruang Eda yang sepi dan jarang didatangi tamu, jadi ramai dengan suara anak-anak. Setiap Rabu, hari Eda mengajar, dua kurcaci ini pasti datang. Kadang mereka juga datang pada hari Jumat. Semangat dan kesukaan mereka menggambar begitu besar, mengingatkan Eda kepada Mas Danu, kakaknya yang suka menggambar sejak kecil. Hubungan dekat dan akrab dengan kakaknya membuat Eda juga ikut-ikutan suka menggambar seperti Kangmasnya.

Kedatangan kakak beradik yang hampir rutin tiap Rabu dan Jumat ini membuat Eda membawa bekal makan siang lebih banyak. Eda tidak selalu membawa roti. Kadang dia membawa makan khas Indonesia seperti lemper, arem-arem, atau bika ambon. Bahkan nasi goreng. Ternyata Sylvie dan Michel mau mencobanya.

Wah, lidah kalian bisa cepat beradaptasi juga, ya? Suka makanan Indonesia,” gumam Eda.

Pardon?” Sylvie tidak mengerti, mengira Eda bertanya.

Ehm, enak?” tanya Eda sambil mengacungkan jempolnya dan menunjuk ke arah makanan yang dipegang Sylvie.

Oui. Enak!” balas Sylvie menirukan ucapan Eda, sambil melanjutkan makannya.

Enak!” seru Michel, mengikuti ucapan kakaknya, sambil mengangguk-angguk.

Hee, sudah mau bicara juga, kau, Nak?” Eda senang sekali mendengar suara Michel yang selama ini selalu tersenyum memandangnya, atau mengangguk-angguk saja.

Spontan diciumnya pipi Michel yang merah seperti buah tomat itu. Matanya berbinar-binar ceria. Mata Michel yang bundar bersinar menatapnya. Sylvie melihatnya, cemburu, lalu dipeluknya Eda dan dicium pipinya, meminta perhatiannya.

Eda tersentak kaget menyadari tindakannya. Teringat kembali ketika masih kecil, dia suka iri kepada Mbak Rini yang tampaknya lebih disayang Mamanya, karena nurut dan anteng, tidak seperti Eda yang nakal -- terlalu aktif, tidak bisa diam. Itulah sebabnya dia lebih dekat dengan Mas Danu, dan meniru apa saja yang dilakukan kakak lelakinya.

Ada kekhawatiran kecil, Eda telah membuat mereka dekat dengannya, dan makin terikat secara psikologis. Rasanya ada sebagian dari dirinya yang hilang, kalau tidak melihat mereka. Mungkinkah ini sebuah kebutuhan akan hadirnya seseorang dalam hidupnya? Dan anak-anak ini telah mengisi bagian yang hilang selama ini? Sesuatu yang tanpa sadar sebenarnya juga dirindukan Eda.

Kebiasaan didatangi dua makhluk kecil ini pelan-pelan telah mempengaruhi hidupnya. Kedatangan mereka yang sebelumnya adalah sesuatu yang aneh dan tidak biasa, telah berubah menjadi semacam kebutuhan. Setiap pagi, ketika menyiapkan bekal, Eda selalu ingat makanan kesukaan mereka.

Kebiasaan membawa mereka masuk ke dalam kelasnya, yang tadinya terasa ganjil bagi mahasiswanya, lama-lama menjadi biasa. Bahkan mahasiswanya akan nyeletuk bertanya, kalau Sylvie kecil yang cantik dan bermata biru itu tidak hadir di kelas mereka.

Diam-diam mulai tersebar kabar burung, bahwa Eda hendak menikah dengan Pak Alain. Ardie sobat Eda di kantor sudah mulai menggodanya.

Da, mula-mula anaknya yang katut. Ntar, lama-lama Bapaknya juga ikutan masuk kelasmu, supaya bisa memandangmu sepuasnya. Kamu pèlèt, ya?” Ardie berjalan mengiringi Eda ketika keluar dari ruang kelasnya, mulai berolok-olok.



Kamis, 09 Januari 2025

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine - PART NINE

 kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine

PART NINE


Bunga Wattle dari Tullamarine

Small World

Eda mengetuk pintu, lalu Sylvie menariknya masuk. Ruangan itu kosong. Di dinding di belakang meja kerja Papanya Sylvie, banyak terdapat tempelan kertas-kertas gambar anak-anak, hasil coretan Sylvie dan Michel.

Itu siapa yang menggambarnya?” tanya Eda, sambil menunjuk ke dinding.

Sylvie segera berlari ke arah dinding, lalu satu persatu menjelaskan kepada Eda gambar-gambar itu, menyebutkan mana yang dibuat Sylvie, mana yang dibuat adiknya. Sementara Michel masih tetap menggenggam tangan kiri Eda, sekali-sekali tersenyum malu, bergantian memandang ke arah dinding ketika Sylvie menunjuk ke gambar Michel.

Seperempat jam berlalu ketika pintu ruangan terkuak. Seorang laki-laki asing masuk dan berhenti di dekat pintu.

Allô, mes petits! Où ȇtes vous tout à l’heure? Kemana saja, kalian?” suaranya yang ramah menghentikan ocehan Sylvie.

Ketiganya menengok ke arah pintu. Sebuah senyuman terkembang ke arah Eda, senyum yang mengingatkan kembali kepada seseorang, tapi lupa di mana dan siapa dia?

Papa!” Sylvie segera berlari menghampiri laki-laki yang dipanggil Papa ini, lalu memeluknya.

I am sorry, Sir. I am coming here without permission,” ucap Eda, meminta maaf atas kelancangannya.

Not at all, Mademoiselle, not at all,” sambut lelaki ganteng itu dibarengi dengan senyumnya yang ramah dan hangat.

Michel masih menggenggam tangan Eda. Dia tersenyum-senyum ke arah Ayahnya, lalu mengerling malu-malu ke arah Eda. Eda tersenyum penuh kasih, dan mengulurkan tangan Michel, memberi isyarat ke Michel untuk menghampiri Papanya. Lelaki itu memandang Michel yang bermata sendu dengan penuh rasa sayang dan trenyuh. Sebentar, terbesit sinar duka di wajahnya. Ekspresi ini tertangkap oleh mata Eda yang cerdas, dan membuatnya bertanya-tanya dalam hati.

Di mana istrinya? Meninggalkah? Atau berpisah dengannya?

Eda menjelaskan,“Eer, Sylvie and Michel have been in my office since this morning.”

Really? Dan mereka telah mengganggu Anda, bukan?” ujarnya, dalam Bahasa Indonesia, dengan aksen asing.

Non, non, non, Monsieur. They’re nice and cute,” buru-buru Eda menjawab, khawatir laki-laki yang dipanggil Papa ini akan memarahi mereka.

Lelaki itu memandang tajam ke arah Eda, seperti minta diyakinkan kembali atas jawaban Eda. Tatapan tajam itu mengingatkan Eda kepada Mas Pras, ketika sedang serius membicarakan sesuatu. Agak gusar Eda membalas menatapnya, memastikan bahwa dia tidak merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak di ruangan kerjanya.

Secercah senyuman lembut terkembang di sudut bibir laki-laki ganteng itu. Ditatapnya kembali Eda dengan tajam sambil, mengangguk-angguk, seperti teringat sesuatu.

I just remember. We have met before, haven’t we? Kita pernah jumpa, bukan?” tanya laki-laki itu minta diyakinkan.

Eda mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat. Dipandangnya Sylvie, lalu beralih ke Papanya.

Ya, wajah Sylvie mirip sekali dengan Papanya. Ini yang membuatnya kaget tadi pagi. Aku jadi ingat senyumnya. Aku merasa telah melihatnya, tapi siapa dia dan di mana kami bertemu? Ah, terlalu banyak yang aku lupakan semenjak pulang ke Indonesia.

Eda belum berhasil mengingatnya.

We met you in Jakarta, in the aeroplane just before we got off! Don’t you remember?” ujarnya.

Ya, saya ingat sekarang,” balas Eda seperti telah menemukan kembali jawaban teka-tekinya.

Eda teringat kembali pembicaraan singkat mereka di pesawat. Bagaimana lelaki asing ini mengolok-olok Eda yang sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya, Pras. Matanya meredup. Wajah Pras itu tiba-tiba muncul di depannya. Rasa sakit dan sesak kembali merasukinya. Eda menoleh ke jendela. Matanya sedih mengikuti dua burung gereja yang terbang bersama, lalu hinggap di pohon pepaya di luar sana. Sepasang mata laki-laki asing itu mengamatinya dengan tajam perubahan ekspresi Eda.

Apakah dia ditinggal kekasihnya? pikirnya. Hening sejenak.

Small world, n'est ce pas? Dunia kecil, ya?” suara laki-laki itu memecah kesunyian.

Eda mencoba tersenyum, tetapi hanya senyum getir yang muncul. Lelaki ganteng itu lalu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.

I am Alain George René, Just call me Alain,” kata laki-laki itu memperkenalkan diri.

I am Eda Wulandari Sujarwo. Everybody calls me Eda,” balas Eda.

Alain menjabat tangannya erat dan mantap. Senyumnya hangat dan simpatik sekali. Matanya tidak lepas memandang Eda dengan tajam. Lalu diliriknya Michel yang sudah menggandeng tangan kiri Eda lagi, tanpa dia sadari.

Mon Petit Prince, elle est très belle, n’est-ce pas? Dia cantik sekali, ya?” Alain membisikkan kalimat terakhir pelan ke telinga Michel, lalu menjentikkan jarinya ke dagu anak lelakinya.

Michel tersenyum senang, mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan. Eda turut memandangnya trenyuh. Tanpa sadar dielusnya kepala Michel dengan penuh rasa sayang, lalu diserahkannya kepada Papanya.

Kamis, 02 Januari 2025

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine - PART EIGHT

 kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine

PART EIGHT

Bunga Wattle dari Tullamarine


Eda berhenti menulis dan memandang ke arah dua makhluk kecil ini bergantian. Seolah tidak yakin akan apa yang didengarnya. Mereka membalas menatapnya, seolah menunggu jawaban ‘YA’ dari Eda. Pandangan yang polos dan penuh harap itu membuat Eda jatuh hati dan tidak tega menolaknya.

Baiklah. Tapi Sylvie dan Michel berjanji untuk bersikap manis di kelas, ya? Mendengarkan dengan tenang dan tidak berisik?” Eda memberi prasyarat. Dalam hati geli, bagaimana mungkin mereka mengerti apa yang akan disampaikannya di kelas nanti.

Mereka berdua mengangguk senang, dan melanjutkan menggambar lagi. Sekali-sekali mereka memandang Eda yang sedang asyik menulis, seakan sudah tidak sabar menunggu masuk kelas.

Akhirnya, tiba saatnya Eda mengajar. Sepanjang jalan menyusuri koridor menuju ruang kelas, Sylvie dan Michel bercanda dengan riang. Mereka berjalan di belakang Eda. Kadang mereka berhenti, bertanya bila melihat sesuatu yang menarik, sambil menunjuk.

Kelas seketika menjadi tenang kembali ketika Eda masuk. Mereka kaget dan bertanya-tanya melihat Eda masuk diikuti dua anak bule yang lucu-lucu.

Selamat siang saudara. Hari ini ada dua murid kecil akan mengikuti kuliah kita. Terlalu kecil, ya? Tapi Mereka sudah berjanji tidak akan mengganggu acara belajar-mengajar kita, kok,” kata Eda kepada mahasiswanya sambil menyuruh Sylvie dan Michel duduk di bangku paling depan di sebelah kanan.

Kedua kakak beradik ini duduk dengan tenang mendengarkan Eda. Mata mereka tidak lepas menatap Eda, mengikut setiap gerakan langkahnya sambil keheran-heranan, tidak mengerti apa yang dikatakan Eda dalam bahasa yang tidak dikenal mereka. Bahasa yang berbeda sama sekali dengan apa yang mereka ucapkan ketika berada di ruang kerja Eda.

Sekali-sekali kedua kakak beradik ini saling berpandangan, lalu sama-sama mengangkat bahu dan tersenyum sambil menutup mulut mereka. Kuliah yang berjalan 100 menit nonstop itu selesai juga akhirnya. Eda keluar diikuti Sylvie dan Michel di belakangnya.

Mengapa Eda bicara dalam bahasa yang Sylvie tidak mengerti?” tanya Sylvie.

Eda menjelaskan, “Ya, kalau Eda bicara dalam bahasa Prancis, mereka tidak mengerti, Sylvie. Mereka tidak belajar bicara bahasamu. Ici, on parles l’Indonésien, Sylvie,” tutur Eda.

Eda kembali ke ruangannya. Sylvie dan Michel masih mengikutinya. Setiap orang yang berpapasan memandang dengan bertanya-tanya.

Siapa mereka, Da?” tanya Ardie yang berjalan memotongnya.

Tidak tahu. Pagi-pagi, kurcaci-kurcaci kecil ini mengetuk pintu ruanganku. Terus mengikutiku sampai sekarang,” ujar Eda.

Wah, jangan-jangan, Bapaknya katut kamu juga, Da?” ledek Ardie.

Husyy, ojok ngono, Cak. Ntar ada malaikat liwat, diamini ucapanmu. Dilaporné Bos di langit sana. Lhak repot, aku, Cak,” seru Eda sambil mengarahkan telunjuknya ke atas.

Sampai di ruangan Eda, dua kurcaci kecil ini langsung duduk di kursi, melanjutkan menggambar lagi. Eda mengamati mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Anak kecil di mana-mana sama. Kalau sudah menemukan keasyikan dan merasa aman, mereka lupa kalau ditunggu orang tuanya. Mungkin sekarang ini Papanya sudah gelisah dan cemas mencari-cari mereka,” gumam Eda.

Sylvie, Michel, kalian tadi datang ke tempat ini sama siapa?” Eda mencoba mengingatkan mereka kepada orang tuanya.

Kami datang dengan Papa,” sahut Sylvie sambil terus menggambar.

Di mana Papamu sekarang?” tanya Eda.

Di kantornya, là bas! Di sana!” sambung Sylvie sambil menunjuk ke arah kanan jendela, ke deretan gedung-gedung di ujung sana.

Papamu pasti sedang mencarimu. Dari pagi sampai sekarang, kalian ada di sini. Sekarang sudah lewat jam 12.00. Yuk, Eda antar kembali menyusul Papa?” bujuk Eda.

Tidak. Tadi Papa bilang, kita boleh main sampai jam satu,” sahut Sylvie, menolak ajakan Eda.

Eda tidak tega memaksa mereka. Dikeluarkannya roti bekal makan siangnya dan dibagikannya sepotong-sepotong kepada mereka. Dibuatkannya dua gelas susu coklat dari dapur kecil yang ada di sebelah ruangannya. Mereka langsung melahap roti itu dengan semangat. Pasti sudah kelaparan.

Oke, kita tunggu jam satu, ya? Kalian abisin kue dan minum cokelat itu,” ucapnya.

Sambil menunggu mereka makan, Eda membereskan kertas-kertas yang berserak di meja kecil yang sudah penuh dengan coretan-coretan gambar mereka.

Betapa indahnya masa kanak-kanak. Mereka adalah pemain teater panggung kehidupan yang sejati. Anak-anak mereguk dunia sepenuhnya, tanpa ragu-ragu dan setengah-setengah. Total, intense, dengan seluruh jiwa raga, tidak pura-pura. Mereka menangis sekeras-kerasnya, tapi juga tertawa dan gembira sepenuhnya. Tidak ditahan-tahan seperti orang dewasa. Masa kanak-kanak adalah sebuah surga yang hilang ketika kita menginjak alam dewasa.

Eda memandangi dua kurcaci kecil ini dengan keharuan yang luar biasa. Ada rasa sakit menjalar perih di tubuhnya. Rasa kehilangan itu muncul kembali ketika menatap ekspresi polos yang memancarkan keriangan dan suka cita pada wajah Sylvie. Sudah hampir setahun sejak dia pulang dari Australia dan menjalani kehidupan rutin kembali, kerja, kerja, menenggelamkan diri dari kesibukannya di kampus.

Ditatapnya Michel yang selalu tersenyum malu-malu. Matanya yang melankolik, seperti merindukan sesuatu.

Setelah menghabiskan minum, Eda membujuk mereka keluar dan mengajaknya berjalan ke arah gedung yang ditunjuk Sylvie sebagai tempat Papanya bekerja. Sambil bercerita sepanjang jalan, Eda menggandeng Michel dan Sylvie memasuki gedung itu.



Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine-PART TEN

  kata kunci : Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine PART TEN Bunga Wattle dari Tullamarine “ Well, Sir, I think I have to leave. Saya pami...