kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine
PART SEVEN
Bunga Wattle dari Tullamarine
Teman-teman Kecil
Pagi ini, Langit cerah sedang memayungi kota. Langit biru dengan sederet awan tipis berbentuk sisik-sisik ikan. Udara kampus yang sejuk dan angin sepoi-sepoi yang berhembus memberi suasana damai di hati Eda.
Lewat jendela kaca ruangan kerjanya, Eda bisa melihat pemandangan ke arah pelataran luar. Bunga-bunga bougenville sudah bermekaran dengan warna ungu yang segar di selang- seling pohon Angsoka, yang berdaun dan berbunga lebat kekuningan. Dari kejauhan, tampak dua bukit kecil berwarna kelabu tertutup awan tipis di kakinya.
Eda senang menikmati pemandangan pagi hari yang indah ini dari balik jendela kantornya. Pemandangan ini yang selalu membuatnya rindu dan bergegas untuk berangkat ke kantor pagi-pagi sebelum kampus menjadi ramai kembali ketika jam kerja dan jam-jam kuliah sudah mulai.
Kapan-kapan, aku akan membawa kuas dan cat airku untuk mengabadikanmu. Memindahkanmu di atas kanvas kecil tanpa merusak keindahan yang telah kau persembahkan padaku setiap pagi. Kaulah kini sumber inspirasiku yang telah menolongku untuk bertahan menghadapi segala badai dan tragedi di bumi kecil jiwaku. Hidup masih layak untuk dijalani, bukan?
Mata Eda menembus melewati kaca jendela, memandang jauh sampai ke kaki langit sana.
Setiap pagi hari, segera setelah meletakkan tas kantornya, selama setengah jam Eda akan memandang keluar, dari jendela kaca besar di belakang meja kerjanya tanpa melakukan kegiatan apa-apa. Kadang, dia beranjak dari kursinya mendekat ke jendela, menatap gundukan dua bukit kembar kebiruan jauh di sana. Setelah itu, dia baru mulai kerja dengan penuh semangat, tenggelam dalam kesibukan dan tidak membiarkan dirinya dan pikirannya menganggur.
Menyiapkan materi kuliah, membaca beberapa buku referensi, membalas beberapa surat resmi, menulis paper atau artikel, membuat katalog dari buku-buku yang terpajang di rak buku kecil di ruang kerjanya. Menengok email, membalas pesan yang masuk dalam mailbox-nya.
Eda hanya sendiri di ruang itu. Meski tidak begitu besar, tetapi cukup memberi kenyamanan, sebagai tempat persembunyian yang aman. Ruangan itu berada di gedung laboratorium, letaknya paling ujung dan agak terpisah dari School Building, bahkan terpisah dari teman-teman yang menempati gedung administrasi. Itulah satu-satunya ruangan kosong yang tersedia ketika Eda kembali dari studinya.
Ruang kantor ini pernah ditempati Mr. Wilson, seorang konsultan asing yang bekerja di kantornya. Ruangan terkunci selama enam bulan semenjak Mr. Wilson meninggalkan Indonesia. Ruang yang tadinya kotor dan penuh sarang laba-laba ketika Eda membukanya pertama kali. Kini, telah berubah menjadi tempat kerja yang cozy, bersih, dan nyaman.
Setelah menikmati ‘setengah jam meditasi’ rutinnya di pagi hari, Eda segera tenggelam dalam kesibukan yang lain, menyiapkan bahan kuliah yang akan disampaikannya siang nanti.
Baru satu jam berlalu ketika terdengar ketukan pintu.
“Silakan masuk,” respon Eda mendengar suara ketukan pintu.
Pintu itu tidak terbuka juga. Kembali terdengar ketukan. Pegangan pintu itu bergerak ke bawah pelan sekali, tapi tidak juga membukanya. Eda mengamati dengan tajam. Bahan-bahan mengajar sudah hampir selesai. Tinggal meng-upload beberapa grafik dan gambar. Eda malas beranjak dari kursinya.
Dia menjawab ketukan pintu itu.
“Come in!” ucapnya, sambil mengunggah beberapa gambar dalam slide Power Point yang sedang dikerjakan. Dia menebak, mungkin, tamunya orang asing?
“Pardon?” terdengar suara anak kecil dari balik pintu, mengucapkan kata berbahasa Prancis.
“Entrez s'il vous plaît! Silakan masuk!” sahut Eda, menjawabnya dalam bahasa Prancis.
Pintu itu membuka. Dua orang anak kecil, berusia 3-5 tahun (?) laki-laki dan perempuan bermata biru, masuk dan berdiri di depan pintu. Eda agak terkejut, berhenti bekerja. Memandang ke arah mereka dengan sedikit bengong.
Samar-samar, wajah yang perempuan mengingatkannya pada seseorang, entah siapa. Dia tidak berhasil menemukan siapa wajah yang mirip dengan gadis kecil itu. Anak itu tersenyum kepadanya, agak malu-malu. Adiknya yang laki-laki, memegangi rok kakaknya, menyembunyikan wajahnya di belakangnya.
Eda membalas senyum mereka. Melambaikan tangannya sambil mengangguk, menyuruh mereka mendekat. Bergegas kakaknya mendekat ke depan meja, diikuti adiknya, masih memegangi rok kakaknya. Mereka berdiri di depan Eda sambil berpegangan di pinggir meja. Mata mereka bundar berwarna biru, berbinar memandangnya.
“Quels sont vos noms, mes petits amis? Siapa nama kalian, teman-teman kecilku?” tanya Eda sambil bergantian memandang ke arah dua kakak beradik itu.
“Je suis. Sylvie. Il est Michel,” jawab kakaknya.
“Les beaux noms pour les beaux enfants. Nama yang bagus untuk anak-anak yang baik,” balas Eda sambil mengangkat jempolnya.
Mata mereka bersinar, senang mendapat pujian.
“Qu'est-ce que c’est ça? Apa ini?” tanya Sylvie sambil menunjuk ke buku referensi yang ada di atas meja.
“Oh, ini buku untuk bahan mengajar,” jelas Eda.
“Boleh saya menggambar? Saya suka,” ujar Sylvie dalam bahasa Prancis. Dia segera merasa dekat dengan Eda. Adiknya ikut mengangguk-angguk.
Eda agak bingung sejenak. Lalu mengambil dua lembar kertas kosong dari printer yang ada di samping kanannya, di sebelah meja panjang, lalu memberikannya kepada Sylvie dan adiknya, dan satu pensil untuk masing-masing. Mereka senang sekali dan berdesakan menggambar di atas meja kerjanya. Eda tersenyum melihat dua anak yang lucu-lucu ini. Dia mengambil dua kursi, diletakkannya di depan meja panjang itu.
“Sylvie, Michel, pindah sini, Nak. Tempatnya lebih longgar. Jadi tidak berdesakan menggambarnya,” bujuk Eda.
Ketiga manusia itu asyik dengan dunianya sendiri. Dengan tenang, Eda bisa melanjutkan persiapan mengajarnya. Sekali-sekali dia bertanya kepada Sylvie. Adiknya ikut mengangguk ketika Sylvie menjawab.
“Quel est votre nom?” tanya Sylvie.
“Je suis Eda,” jawab Eda. Sambil memandang bergantian ke mereka.
“Vous ȇtes un professeur, come Papa? Anda seorang guru, seperti Papa?” tanyanya lagi.
“Oui, ma petite amie. Ya, teman kecilku,” jawab Eda.
“Mengapa sekarang Eda tidak di kelas?” lanjut Sylvie, dalam bahasa Prancis.
“Ya, sebentar lagi. Setengah jam lagi Eda mengajar,” sahut Eda.
“Boleh kami ikut?” tanya Sylvie, mengejutkan Eda.