Selasa, 31 Desember 2024

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine - PART SEVEN

  kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine

PART SEVEN


                                                             Bunga Wattle dari Tullamarine

Teman-teman Kecil

Pagi ini, Langit cerah sedang memayungi kota. Langit biru dengan sederet awan tipis berbentuk sisik-sisik ikan. Udara kampus yang sejuk dan angin sepoi-sepoi yang berhembus memberi suasana damai di hati Eda.

Lewat jendela kaca ruangan kerjanya, Eda bisa melihat pemandangan ke arah pelataran luar. Bunga-bunga bougenville sudah bermekaran dengan warna ungu yang segar di selang- seling pohon Angsoka, yang berdaun dan berbunga lebat kekuningan. Dari kejauhan, tampak dua bukit kecil berwarna kelabu tertutup awan tipis di kakinya.

Eda senang menikmati pemandangan pagi hari yang indah ini dari balik jendela kantornya. Pemandangan ini yang selalu membuatnya rindu dan bergegas untuk berangkat ke kantor pagi-pagi sebelum kampus menjadi ramai kembali ketika jam kerja dan jam-jam kuliah sudah mulai.

Kapan-kapan, aku akan membawa kuas dan cat airku untuk mengabadikanmu. Memindahkanmu di atas kanvas kecil tanpa merusak keindahan yang telah kau persembahkan padaku setiap pagi. Kaulah kini sumber inspirasiku yang telah menolongku untuk bertahan menghadapi segala badai dan tragedi di bumi kecil jiwaku. Hidup masih layak untuk dijalani, bukan?

Mata Eda menembus melewati kaca jendela, memandang jauh sampai ke kaki langit sana.

Setiap pagi hari, segera setelah meletakkan tas kantornya, selama setengah jam Eda akan memandang keluar, dari jendela kaca besar di belakang meja kerjanya tanpa melakukan kegiatan apa-apa. Kadang, dia beranjak dari kursinya mendekat ke jendela, menatap gundukan dua bukit kembar kebiruan jauh di sana. Setelah itu, dia baru mulai kerja dengan penuh semangat, tenggelam dalam kesibukan dan tidak membiarkan dirinya dan pikirannya menganggur.

Menyiapkan materi kuliah, membaca beberapa buku referensi, membalas beberapa surat resmi, menulis paper atau artikel, membuat katalog dari buku-buku yang terpajang di rak buku kecil di ruang kerjanya. Menengok email, membalas pesan yang masuk dalam mailbox-nya.

Eda hanya sendiri di ruang itu. Meski tidak begitu besar, tetapi cukup memberi kenyamanan, sebagai tempat persembunyian yang aman. Ruangan itu berada di gedung laboratorium, letaknya paling ujung dan agak terpisah dari School Building, bahkan terpisah dari teman-teman yang menempati gedung administrasi. Itulah satu-satunya ruangan kosong yang tersedia ketika Eda kembali dari studinya.

Ruang kantor ini pernah ditempati Mr. Wilson, seorang konsultan asing yang bekerja di kantornya. Ruangan terkunci selama enam bulan semenjak Mr. Wilson meninggalkan Indonesia. Ruang yang tadinya kotor dan penuh sarang laba-laba ketika Eda membukanya pertama kali. Kini, telah berubah menjadi tempat kerja yang cozy, bersih, dan nyaman.

Setelah menikmati ‘setengah jam meditasi’ rutinnya di pagi hari, Eda segera tenggelam dalam kesibukan yang lain, menyiapkan bahan kuliah yang akan disampaikannya siang nanti.

Baru satu jam berlalu ketika terdengar ketukan pintu.

Silakan masuk,” respon Eda mendengar suara ketukan pintu.

Pintu itu tidak terbuka juga. Kembali terdengar ketukan. Pegangan pintu itu bergerak ke bawah pelan sekali, tapi tidak juga membukanya. Eda mengamati dengan tajam. Bahan-bahan mengajar sudah hampir selesai. Tinggal meng-upload beberapa grafik dan gambar. Eda malas beranjak dari kursinya.

Dia menjawab ketukan pintu itu.

Come in!” ucapnya, sambil mengunggah beberapa gambar dalam slide Power Point yang sedang dikerjakan. Dia menebak, mungkin, tamunya orang asing?

Pardon?” terdengar suara anak kecil dari balik pintu, mengucapkan kata berbahasa Prancis.

Entrez s'il vous plaît! Silakan masuk!” sahut Eda, menjawabnya dalam bahasa Prancis.

Pintu itu membuka. Dua orang anak kecil, berusia 3-5 tahun (?) laki-laki dan perempuan bermata biru, masuk dan berdiri di depan pintu. Eda agak terkejut, berhenti bekerja. Memandang ke arah mereka dengan sedikit bengong.

Samar-samar, wajah yang perempuan mengingatkannya pada seseorang, entah siapa. Dia tidak berhasil menemukan siapa wajah yang mirip dengan gadis kecil itu. Anak itu tersenyum kepadanya, agak malu-malu. Adiknya yang laki-laki, memegangi rok kakaknya, menyembunyikan wajahnya di belakangnya.

Eda membalas senyum mereka. Melambaikan tangannya sambil mengangguk, menyuruh mereka mendekat. Bergegas kakaknya mendekat ke depan meja, diikuti adiknya, masih memegangi rok kakaknya. Mereka berdiri di depan Eda sambil berpegangan di pinggir meja. Mata mereka bundar berwarna biru, berbinar memandangnya.

Quels sont vos noms, mes petits amis? Siapa nama kalian, teman-teman kecilku?” tanya Eda sambil bergantian memandang ke arah dua kakak beradik itu.

Je suis. Sylvie. Il est Michel,” jawab kakaknya.

Les beaux noms pour les beaux enfants. Nama yang bagus untuk anak-anak yang baik,” balas Eda sambil mengangkat jempolnya.

Mata mereka bersinar, senang mendapat pujian.

Qu'est-ce que c’est ça? Apa ini?” tanya Sylvie sambil menunjuk ke buku referensi yang ada di atas meja.

Oh, ini buku untuk bahan mengajar,” jelas Eda.

Boleh saya menggambar? Saya suka,” ujar Sylvie dalam bahasa Prancis. Dia segera merasa dekat dengan Eda. Adiknya ikut mengangguk-angguk.

Eda agak bingung sejenak. Lalu mengambil dua lembar kertas kosong dari printer yang ada di samping kanannya, di sebelah meja panjang, lalu memberikannya kepada Sylvie dan adiknya, dan satu pensil untuk masing-masing. Mereka senang sekali dan berdesakan menggambar di atas meja kerjanya. Eda tersenyum melihat dua anak yang lucu-lucu ini. Dia mengambil dua kursi, diletakkannya di depan meja panjang itu.

Sylvie, Michel, pindah sini, Nak. Tempatnya lebih longgar. Jadi tidak berdesakan menggambarnya,” bujuk Eda.

Ketiga manusia itu asyik dengan dunianya sendiri. Dengan tenang, Eda bisa melanjutkan persiapan mengajarnya. Sekali-sekali dia bertanya kepada Sylvie. Adiknya ikut mengangguk ketika Sylvie menjawab.

Quel est votre nom?” tanya Sylvie.

Je suis Eda,” jawab Eda. Sambil memandang bergantian ke mereka.

Vous ȇtes un professeur, come Papa? Anda seorang guru, seperti Papa?” tanyanya lagi.

Oui, ma petite amie. Ya, teman kecilku,” jawab Eda.

Mengapa sekarang Eda tidak di kelas?” lanjut Sylvie, dalam bahasa Prancis.

Ya, sebentar lagi. Setengah jam lagi Eda mengajar,” sahut Eda.

Boleh kami ikut?” tanya Sylvie, mengejutkan Eda.


Senin, 16 Desember 2024

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine (PART SIX)

 

kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine



Bunga Wattle dari Tullamarine

PART SIX

Baju Danu basah dibanjiri air mata Eda yang deras mengalir bagai air bah. Dielusnya adiknya dengan lembut dan sayang.

Katakan pada Kangmasmu, Cah Ayu. Apa yang bisa Mas Danu lakukan untuk bisa mengusir kesedihanmu?” bisik Danu.

Tidak ada, tidak ada. Tidak ada lagi yang aku inginkan. Eda sudah tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi, dan tidak menginginkan apa-apa lagi,” jawab Eda, lirih, dan terputus-putus. Masih terdengar isaknya.

Danu merasa trenyuh. Eda yang malang. Adiknya yang selalu memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang disayanginya. Memberikan sayangnya, cintanya, perhatiannya, sepenuh hatinya, tanpa sisa. Eda pasti hancur dan amat sangat kehilangan segalanya bila ada yang merenggutnya, oleh nasib, keadaan dan segala yang di luar kendalinya.

Mengapa Mas Danu tidak memberitahu Eda tentang Mas Pras?” ucap Eda. Matanya sembab dan terasa perih.

Eda, Adikku. Bagaimana mungkin Mas Danu berbagi berita yang bahkan bikin shock Mas Danu sendiri. Semua begitu mendadak dan tidak terduga. Sementara Adik lagi mengejar deadline menyelesaikan tesis. Mbak Rini baru saja masuk Rumah Sakit untuk operasi kedua kalinya. Kau harus berbagi waktu ngurus studi dan momong Edo. Sudah terlalu banyak dan berat bebanmu di sana,” tutur Danu.

Eda sudah mulai reda isaknya, meski sesekali masih terdengar menarik napas panjang.

Begitulah, nasib telah begitu tertib, dengan lupa kita juga bisa menjadi karib,” desahnya, pahit.

Ya, sedang lumut pada lokan kerak pada kerang, akan tetap juga di sana, apa pun maknanya,” lanjut Danu, meneruskan lirik sajaknya Goenawan Mohamad.

Dipeluknya adiknya dengan erat, penuh rasa sayang, trenyuh. ikut merasakan kepedihan hati Eda.

Adik masih tetap seperti Eda yang kukenal, bukan? Jangan bikin Kangmas pangling, dan tidak mengenalmu lagi, ya?” ucap Danu sambil mencubit dagu Eda.

Eda mengangguk. Sekali lagi, mencoba tersenyum. Senyum kegetiran itu masih menempel di ujung bibirnya.

***

Sudah enam bulan Eda kembali ke kantor, back to routinity. Selama enam bulan itu dia benar-benar kacau dan terombang-ambing perasaannya. Dia berusaha keras untuk melupakan segala kenangannya kepada Pras. Namun ingatan kepada kekasihnya makin mengental. Lamunannya mengembara ke masa lalu, bagaimana dia bertemu dan jatuh hati kepada sobat dekatnya Kak Danu.

Pertama kali jumpa dengan Pras, ketika Mas Danu pulang bersama dua orang kawan Wanadri, grup pecinta alam di kampusnya. Mas Agung, dari jurusan Elektro, dan Mas Pras dari Geologi. Danu menyulap garasi rumah orang tua Danu yang cukup besar menjadir ruang seraba guna. Ruang untuk menampung teman-teman naik gunungnya untuk tidur, ngobrol, menaruh perlengkapan naik gunung, dan lain-lain.

Pras dan Agung adalah dua pribadi yang berbeda karakternya. Mas Agung orangnya suka ngobrol, ramah, tidak pemalu, sedangkan Mas Pras lebih pendiam, lebih banyak mendengar. Dia bicara dengan matanya. Dan itu menarik buat Eda, yang criwis, tomboy, dan suka debat dengan Mas Danu, gadis kecil pemberontak. Eda suka misteri.

Eda diam-diam menyukai Mas Pras. Dia bayangkan, sosok seperti itu yang pas jadi suaminya. Tidak banyak bicara, tapi matanya tajam, dan sedikit menakutkan. Eda perlu seseorang yang dia takuti, seperti Ayahnya. Tentu saja Mas Danu tahu. Mas Agung lebih naksir ke Mbak Rini yang keibuan. Jadi, akhirnya Mas Agung menikah dengan Mbak Rini yang penurut itu.

Eda tahu Mas Pras mencintainya, karena dia selalu mengabarinya, di mana pun dia berada, kalau lagi tugas lapangan. Pras hanya kirim pesan pendek. Mereka jarang ketemu. Tapi Eda sangat mencintainya. Cinta pertamanya, yang selalu melekat abadi dalam hatinya.

Aku lagi mau masuk hutan, di Kaltim, Eda baik-baik saja, tho? Take care, pesan Pras. Kadang via email, kadang via text message.

Pernah sekali Mas Danu mengajak Eda ngobrol soal hubungannya dengan Pras.

Dik, kau suka sama Pras, ya? Gimana Adik tahu, dia juga sayang sama Adik?” Danu memancing Adiknya.

Ya, tahu saja, Eda merasakan getaran yang sama dari Mas Pras. Pokoké satu frekuensi dan resonansi,” ujar Eda diplomatis, sambil tersenyum malu.

Bisa tunjukkan momen mana kau benar-benar yakin, dia Pras adalah piliahnmu?”

Aku suka kalau Mas Pras putar film dokumenter dari National Geography, dan sejenisnya. Dia akan menjelaskannya dengan sabar dan semangat, seperti sedang berbagi cerita dengan Eda, very knowledgeable. Mas tahu,‘kan? Eda suka sama cowok yang pintar. He makes me feel happy and safe.”

Ya, tapi dia sering pergi jauh Dik. Orang lapangan. Kau bakal sering ditinggal-tinggal,” pancing Danu.

Ya, kan, pasti ketemu lagi. Malah bagus, tho, kangennya gak ilang-ilang. Baru sebentar ketemu, sudah pergi. Eda kan jadi ingat terus?” sahut Eda sekenanya.

Kamu, nih, romantis banget. Kau pasti membayangkan seperti di film klasiknya Meryl Streep dan Robert Redford, ya? ‘Out of Africa’?” komentar Danu.

Ya, exactly. Mas Pras bawa video itu ke rumah, dan kami melihatnya berdua. Waktu itu Mas Danu masih di Bandung. Di saat itulah, Eda jatuh cinta beneran. Mas Pras telah menyampaikan cinta dan perasaannya kepada Eda dengan memperlihatkan film itu,” tukas Eda.

Danu hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapannya. Ada rasa kekhawatiran menyelinap di dalam hatinya. Membayangkan seperti apa akhir cinta mereka.

Apakah saat itu dia mengucapkan ‘I love you’, padamu?” Danu penasaran.

Ehmm, enggak, tapi matanya mengatakan itu,” balas Eda.

Hidup gak seindah yang kau bayangkan, Dik,” ucap Danu sambil mengusap dan mengacaukan rambut Adiknya.

Wis, pokoké aku percoyo sama Mas Pras. Dia teman terbaiknya Mas Danu, tho? Your truly best friend. Someone you can trust, right?” Eda berbalik bertanya.

Danu hanya mengusap kepala adiknya, sambil tersenyum simpul. Tentu saja, dia penah bertanya langsung kepada Pras, tentang hubungan adiknya dengan Pras. Sama seperti ketika dia bertanya kepada Agung tentang perasaannya kepada Rini, Mbakyunya Eda.

***

Satu bulan pertama adalah perioda yang sangat menyiksa Eda. Hampir tiap malam dia bermimpi bertemu Pras, yang hanya diam memandangnya. Dan seluruh air mata tumpah tiada terbendung. Eda hanya bisa bersujud memohon, Tuhan dapat mengobati lukanya, dan bisa memulai menjalani kehidupan dengan lebih sehat.

Bukankah semua sudah terjadi, Eda? Itu namanya takdir. Tidak ada yang salah dan benar, bukan? Pras punya alasan untuk terbang menemui Ibunya. Kau juga punya hak untuk mencintai dan dicintainya. Tapi kadang dua peristiwa harus terjadi di saat yang sama dengan frekuensi yang berbeda, sehingga tidak bisa beresonansi lagi, dan itu di luar kendalimu. Juga kendali Pras. Ada Yang Maha Tinggi dan Berkehendak di atas langit sana.   Maka lepaskanlah sesuatu yang kau tidak bisa lagi mengontrolnya.

Itulah bisikan yang terdengar dalam hatinya.

Berangsur-angsur tangis tengah malam itu mereda, sampai Eda merasa, tidak ada lagi tersisa air mata untuk menyempurnakan dukanya.

Oke, Eda. Sebulan sudah cukup untuk menghukum dirimu sendiri, hidup dalam kegelapan. Lihatlah, matahari terus bersinar sepanjang hari. Tapi dia tidak bertengkar ketika bulan menggantikannya di malam hari. Mereka tetap akur, meski berbeda suasana, tetap beredar di alam, menjalankan fungsinya masing-masing seperti yang diperintahkan Sang Khalik. Burung-burung tetap berkicau di pagi hari, meski anak-anaknya di sarang hilang disambar elang.

Come on, Eda, let’s move on. Kalau kau pasrah, dan percaya Allah sayang padamu, kau akan menemukan kembali keajaiban-keajaiban dari alam semesta. Eda mendengar suara bisikan dari hatinya.

Untuk pertama kali di malam yang hening itu, Eda merasa damai. Ketika dia pejamkan matanya sambil bersujud, dia merasakan ada sejuta kunang-kunang berkelap kelip mengelilingi dirinya.

Life is wonderful if you can always see the bright side of it. Banyak-banyaklah bersyukur, agar bertambah nikmatmu, Eda. Sekali lagi, dia mendengar bisikan itu.

Jumat, 06 Desember 2024

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine _ Part Five

 

kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine


Bunga Wattle dari Tullamarine

PART FIVE

Kejutan Buat Eda

Sudah satu minggu Eda berada di Jakarta. Sejak kedatangannya, langit kota berubah warna jelaga. Awan pekat yang menggantung di langit, berubah menjadi titik-titik air yang membasahi pohon-pohon yang sudah mengering dan tanaman yang meranggas akibat kemarau yang panjang. Hujan yang turun ini menjadi berkah bagi kota Jakarta, menghijaukan kembali tanaman, menurunkan debu-debu polusi yang menggantung di langit kota ke dalam bumi.

Sebulan sebelum kedatangannya kembali ke tanah air, Mamanya jatuh sakit. Perempuan yang lembut dan sangat sayang kepada anak-anaknya, prihatin dan tidak tega melihat kenyataan yang bakal dihadapi Eda dalam hubungannya dengan Mas Pras.

Eda yang sangat sayang kepada Mamanya, selalu tampak ceria di depan beliau. Dia bercerita dengan penuh antusias tentang negeri kangguru, berkabar tentang Mbak Rini yang sukses menjalani operasinya. Juga tentang Mas Agung yang selalu sabar dalam membimbing studi masternya, tentang teman-temannya yang suka mengolok-oloknya.

Kini, Mama sudah berangsur-angsur sembuh dan kelihatan gembira. Setiap pagi, Eda menemaninya mengurus kebun kecil di belakang rumah. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

Wah, alangkah senangnya Mbak Rini kalau tahu koleksi anggreknya Mama sudah bertambah banyak, ya, Ma?” ucap Eda sambil menyerahkan botol semprot hama kepada Ibunya.

Ya, Mbak Rin paling rajin berkebun sejak kecil. Kalau Eda dan Danu senangnya main layang-layang di atas genteng,” ucap Mama berolok-olok, sambil melirik mata ke Eda. Dia hanya bisa nyengir dan seperti biasa memberikan alasannya.

Ya, daripada mengganggu keasyikan Mama dan Mbak Rini ngopeni taneman. Kata Mbak Rini, nanti tanamannya malah mati semua kalau Eda ikut nyirami kebun Mama,” kilah Eda.

Mama tersenyum memandangnya, tahu bahwa, Eda paling tidak sabar berkebun. Dia lebih suka memetik tangkai tanaman yang sudah keluar kuncup bunganya, dan menaruhnya di vas kecil daripada membiarkannya tumbuh di halaman dan menikmatinya seperti yang dilakukan Mbak Rini.

Sore itu, Eda tampak gelisah. Sudah seminggu, terserap waktu dan perhatiannya untuk Mama, berusaha membuat beliau senang. Mama tampak makin sehat. Eda mondar-mandir di depan kamarnya Danu yang terbuka, dan kosong.

Ke mana Mas Danu, ya? Sedang mandikah? pikirnya.

Ketika Danu keluar dari kamar mandi, Eda mengikutinya dari belakang.

Mas Danu sore ini lagi gak ada acara, ‘kan?” tanya Eda.

Ada. Emangnya ada perlu apa, Nduk, Cah Ayu?” sahut Dani sambil terus ngeloyor menuju ke kamar.

Mau ke mana, sih. Boleh Eda ikut?” tanya adiknya.

Gak boleh, rahasia,” balas Dani, masuk ke kamar, sambil menutup pintunya. Eda ikutan masuk.

Terserah Mas Danu mau ke mana. Eda cuma minta waktu sebentar, untuk melanjutkan obrolan kita yang belum selesai. Eda sudah cukup sabar menunggu selama seminggu, menemani Mama!”

Eda berdiri, bersandar di pintu, menutup jalan supaya Danu tidak bisa keluar. Matanya terus dengan tajam mengikuti gerak-gerik kakaknya, membuat Danu kecut dan teringat kembali dengan persoalan Pras.

Begitu pentingkah dan tidak bisa ditunda, Adikku?” pinta Danu, mencoba mengulur waktu.

No way! I can't stand it anymore. Harus dituntaskan!” ucap Eda. Suaranya tegas. Dia kunci pintu kamar Danu, lalu dimasukkan dalam saku celana panjangnya.

Matanya terus mengamati setiap gerakan dan langkah kakaknya, seperti sedang mengamati makhluk aneh yang ada di hadapannya. Danu berpikir keras, bagaimana menuntaskan masalah yang selama ini diam-diam sangat membebaninya. Dia belum menemukan cara terbaik untuk menyampaikannya kepada Eda. Bagaimana membuatnya mengerti dan menerima situasi kondisi yang terjadi dengan kebesaran hatinya.

Ada rasa sedih, kasihan atas kenyataan yang harus dihadapi Eda. Meski dia hanya bisa berharap, adiknya mampu mengatasinya. Apa pun, sekarang atau nanti, Eda toh harus tahu keadaan yang sebenarnya, menghadapinya, merasakan kepedihan untuk sementara, lalu harus bisa move on.

Danu duduk di atas tempat tidurnya, menunduk, berdoa sambil memejamkan matanya.

Wahai Yang Maha Kasih, tolonglah aku. Beri keberanian untuk menyampaikan berita ini kepada Adikku tercinta. Kuatkan dia, dan berilah ganti yang lebih baik. Eda sudah mendesakku. Semoga dia sudah siap menerima kabar ini, apapun akibatnya, sedih atau gembira.

Danu menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dipandangnya adiknya. Isyarat tangannya menyuruh adiknya mendekat. Eda berjalan ke arah Danu dan duduk di sampingnya.

Mas Danu tahu, kan? Eda ingin minta kejelasan tentang kabar Mas Pras. Sudah sejak enam bulan terakhir sebelum Eda pulang, aku terputus kontak dengannya. Aku tahu dia orang lapangan, sering melakukan tugas ke mana-mana. Biasanya dia tetap berkabar, meski hanya mengirim pesan pendek, isyarat lokasi di mana dia sedang berada. Eda tidak tahu di mana dia sekarang,” Eda mulai nyerocos.

I know, something has happened to him. You are his very best friend. Jadi, Mas Danu pasti tahu. Jangan sembunyikan itu dariku. I have the right to know, what’s going on. Apa pun berita tentang Mas Pras, Eda siap mendengarkannya. Eda tahu, ini pasti bukan kabar yang menyenangkan, bukan?” desak Eda.

Danu merangkul adiknya, mengelus-elus punggung Eda. Napasnya satu-satu tertahan. Suasana di kamar Danu jadi hening dan menegangkan. Eda menghadapkan wajahnya ke Danu, melepas rangkulan kakaknya. Dia menunggu dengan sabar kakaknya membuka suara.

Eda, Adikku. Mau kau berjanji sebelum kuceritakan semuanya?” Danu menatap adiknya tanpa berkedip.

Katakan dulu, Eda harus berjanji apa. Kalau Eda mampu, ya kukerjakan. Jangan memaksa Eda melakukan sesuatu yang Eda gak bisa lakukan,” balas Eda diplomatis.

Kalau begitu, Mas Danu tidak bisa menceritakan apa-apa padamu,” sambung Danu.

Lho, ya gak bisa begitu, dong, Mas Danu! It's not fair,” suaranya setengah menjerit.

Well, Eda bisa bertanya kepada teman-teman Mas Pras, atau pergi ke kantornya, atau tanya tantenya yang di Jakarta. Mama sudah sembuh, jadi Eda bisa meninggalkan rumah. Tapi Eda suka mendengar dari Mas Danu, sahabat Mas Pras yang paling dipercaya. Selama ini Eda menahan diri, karena Eda tidak ingin Mama melihat Eda gelisah, sementara beliau masih belum full recovery,” ujar Eda, memandang kakaknya dengan tajam.

Eda jangan mengancam Mas Danu, dong? Aku kan tidak meminta banyak darimu. Kangmas hanya ingin Eda tetap menjadi seorang Eda, Adik yang periang, aktif dan selalu tegar menghadapi segala tantangan. Dan Eda tetap bersikap baik kepada siapa pun,” ucap Danu agak tersendat-sendat.

Come on, Mas Danu. I am not a child anymore. Mas Danu ini, baru ditinggal dua tahun sudah tidak mengenal lagi Eda, Adiknya. Apa Mas Danu yang sudah banyak berubah?” tukas Eda, mulai emosional.

Oke, oke, I’ll tell everything, Sweet Plum,” balas Danu dengan suara pelan. Hening sesaat. Danu menghela napas lagi.

Ibunya Pras sakit sekitar setahun lalu, ada abnormality dalam ritme detak jantungnya. Sempat dirawat di rumah sakit secara intensif. Sangat lambat perkembangan kondisinya, meski ke arah kesembuhan. Pras, masih ada di lapangan, di tempat yang remote, jauh. Komunikasi terbatas dan sulit. Dia baru diberitahu ketika balik dari lapangan. Mendengar kabar itu, dia segera minta izin untuk bisa balik ke Indonesia, menengok ibunya, meski hanya sebentar,” cerita Danu.

Adik tahu, kan? Pras sangat sayang kepada Ibunya. Beliau sudah dibawa pulang, Ada keponakan yang menemani dan merawatnya di rumah,” lanjutnya.

Namun, sesuatu terjadi dengan Pras. Pesawatnya mengalami kecelakaan.”

Danu berhenti bercerita. Dadanya serasa mau pecah. Beberapa kali dia menghela napas panjang. Eda kelihatan tenang, tidak berkata-kata, menunggu Danu. Dia hanya menebak, ke mana ujung cerita itu. Matanya mulai merebak, berkaca-kaca.

Jatuh dalam perjalanan ke Indonesia ketika melintasi Asia Selatan. Saat itu cuaca buruk di malam hari. Jasadnya belum ditemukan, karena jatuh di daerah pegunungan,” sambung Danu.

Ada sedikit lega, Danu sudah menceritakan bagian yang paling tragis ini. Kepalanya menunduk, memejamkan mata mengenang kembali sahabatnya yang menjadi kekasih adiknya semata wayang, yang sangat disayanginya.

Danu masih teringat obrolan dengan Pras ketika mereka naik gunung bersama. Pras membayangkan kelak tubuhnya bersatu dengan alam, damai di ketinggian puncak gunung yang diselimuti salju abadi. Tubuhnya akan tetap utuh, tidak membusuk, abadi.

Itu adalah isyarat dari Pras yang selalu membayangi Danu, membuatnya prihatin ketika adik bungsu yang disayanginya, jatuh cinta dengan sobat dan seniornya di Wanadri ini. Alam semesta telah mendengar doa Pras, dan menunggu kedatangannya dengan setia.

Eda mulai terisak-isak mendengarnya. Danu memeluk kembali Adiknya, melanjutkan akhir cerita sedih ini.

Dua minggu kemudian, Ibunya Pras meninggal,” ucap Danu, lirih. Kerongkongannya sakit, menahan kesedihannya.

Fantastis! Seperti dalam dongeng saja,” suara Eda di antara isakannya.

Kedua kakak beradik ini saling berpandangan. Eda mencoba tersenyum. Tapi hanya senyum pahit yang muncul. Wajahnya menahan kegetiran yang luar biasa. Lidahnya kelu, tenggorokannya seperti tersumbat. Eda merapatkan bibirnya, menahan tangisnya, namun air mata itu mengalir deras. Dipeluknya Kangmasnya sambil sesenggukan. Air matanya membasahi baju Danu.

Inikah akhir lakon cinta yang harus Eda mainkan di panggung kehidupan. I always get everything, except what I really want,” Eda menyanyikan lagu kepedihannya.



Rabu, 04 Desember 2024

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine - PART FOUR

 

kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine

Bunga Wattle dari Tullamarine

PART FOUR

I am so excited, Sir. Just like a dream. I am coming home!” jawab Eda, seolah ingin berbagi kegembiranaanya dengan orang asing yang tampak friendly ini.

How long have you been leaving your country?” tanya bule ganteng ini.

Over two years, Sir,” sahut Eda.

Two years? It’s a long time, don’t you think? You must miss your family a lot. Especially your boy friend, huh?! sahutnya sambil melirik Eda dengan pandangan jenaka, berolok-olok.

Eda hanya tersenyum, pipinya memerah

. Dia beranjak dari tempat duduknya, berjalan di belakang laki-laki dan dua orang anaknya, di gang di antara deretan kursi-kursi pesawat.

Mereka berjalan beriringan menuju ke bagian imigrasi sambil melanjutkan obrolan ringan tentang perjalanan holiday di Indonesia. Dari percakapan itu, Eda tahu, laki-laki itu berkebangsaan Australia. Namun, mengapa aksennya Prancis? Eda ingin menanyakan, tapi ragu. Eda merekomendasikan tempat-tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Laki-laki itu memperhatikan sarannya. Di depan bagian imigrasi, mereka berpisah.

Au revoir, Monsieur. Sampai jumpa lagi?“ ucap Eda, mempraktekan bahasa Prancis yang dipelajarinya ketika SMA.

Au revoir, Mademoiselle,” balasnya, sedikit surprise, Eda berbahasa Prancis.

Perjalanan Eda sampai di muara meja imigrasi, bergabung di antrean. Sore ini, tidak seperti biasa. Banyak sekali turis yang datang dari mancanegara. Ada rombongan turis Jepang dan Canada. Juga rombongan umroh yang jumlahnya cukup besar.

Penumpang bergabung dalam antrean panjang untuk pemeriksaan paspor. Setelah setengah jam menunggu, Eda keluar menuju ke tempat pengambilan bagasi. Sudah banyak orang berkerumun di sekitar conveyor, menunggu koper mereka. Akhirnya, koper besar Eda muncul. Eda menaruh semua barang di trolly, kemudian berjalan menuju pintu exit.

Eda terus berjalan melewati barisan para penjemput yang berdiri di balik pembatas jalur penumpang. Dia belum melihat Mas Danu, kakaknya. Di ujung deretan penjemput, Eda baru melihatnya melambaikan tangan. Eda hanya melihatnya sendirian, tidak dengan Pras.

Aman, Dik, kopermu, gak dibuka?” tanya Danu.

Eda menggeleng, masih memikirkan Pras yang tidak tampak batang hidungnya. Danu menyambut Eda dan memeluknya.

Beruntung kau. Penumpang itu menggerutu kopernya diaduk-aduk,” ujar Danu sambil menunjuk penumpang yang sedang berjalan menjauhi mereka.

Oh, aku cuma mengedipkan mata kiriku yang kelilipan, lalu kuberi senyuman manis sekali kepada petugas,” jawab Eda bercanda.

Petugas itu tahu. Adik ini tampang miskin dan tidak punya barang berharga di koper! Lha wong pergi ke LN saja diongkosi negara!” tukas Danu.

Ya, bagus, tho? Diongkosi negara itu tandanya Eda cukup pintar dan bonafide untuk mendapat kesempatan dibayari negoro hehehe …,” Eda membela diri.

Kedua kakak beradik ini berjalan menuju ke selasar, berhenti menunggu. Tak lama kemudian, Pak Wahyo meluncur dengan mobil Toyota, dan berhenti di depan mereka.

Pak Wahyo masih ingat Eda, kan?” sambut Eda kepada Pak Wahyo yang hampir 20 tahun setia bekerja di rumah orang tua Eda.

Pak Wahyo pangling. Non Eda tambah cantik,” jawab Pak Wahyo dengan suara lugu.

Uuuh, Pak Wahyo, nih, bikin Eda hidungnya kembang kempis saja!” seru Danu.

Pak Wahyo selalu jujur memeberikan pendapatnya. Mas Danu saja yang sentimen sama Eda. Betul, kan, Pak Wahyo?” seru Eda. Pak Wahyo mengangguk-angguk mengiyakan.

Kalau Mas Danu sentimen, nggak akan jemput kamu, Nyong!” tukas Danu sambil dengan gemas dipijitnya pipi adiknya yang kemerahan seperti buah plum muda.

Dari sejak kecil, Mas Danu dan Non Eda ini selalu kerah, bertengkar. Tapi sebentar juga akur lagi,” ujar Pak Wahyo sambil geleng-geleng kepala.

Kerah nanging akur, piyé, tho, Pak Wahyo? Aku bingung, lho?“ canda Danu.

Iih, Mas Danu ini,” ucap Eda sambil mencubit lengan Danu keras sekali, sampai dia meringis. Khas Eda kalau diledek kakak-kakaknya.

Senja sudah mulai turun. Lampu-lampu jalan sudah mulai menyala. Demikian juga kelap-kelip lampu dari papan-papan reklame ikut semarakkan kota yang tidak pernah tidur itu. Kendaraan meluncur melalui jalan tol.

Tadi, lama banget, ya Dik. Hampir dua jam Mas Danu menunggu. Lima menit lagi, Adik nggak muncul, aku tinggal pulang, kau,” kata Danu mulai lagi dengan ocehannya.

Ah, tidak dijemput Mas Danu, gak pathèken. Eda bisa telepon Mas Pras ke kantornya,” sergah Eda gak mau kalah.

Dijemput Pras? Dia lagi gak ada di sini!” tukas Danu. Dia kaget dengan ucapannya.

What?! Mas Pras gak ada di Jakarta? Di mana, dia?” Eda terloncat kaget dan mendesak Danu dengan pertanyaannya.

Pras lagi survei di lapangan. Di Sumatra, Simalungun?” Danu menjawab agak gugup, mulai khawatir. Eda yang cerdas itu akan terus mendesaknya.

Sejak kapan, berapa lama? Kenapa nggak kasih tahu Eda?” desak Eda.

Hmmm, sejak balik dari UK. Crash program katanya,” sahut Danu. Suaranya agak tersendat-sendat. Eda menangkap nada suara Danu yang meragukan.

Mas Danu tahu alamatnya di Simalungun sana?” desak Eda

Ah, nantilah kita teruskan obrolan ini di rumah,” Danu mengunci percakapan mereka.

Di dekat STM Penerbangan, Pak Wahyo membelokkan kendaraan ke kiri dan berhenti sebelum tikungan. Mereka sampai di tempat tinggal orang tuanya.


Senin, 02 Desember 2024

Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine (PART THREE)

 


kata kunci: Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine



Bunga Wattle dari Tullmarine

PART THREE

Pras Tidak Menjemputnya

Eda mencari tempat duduknya. Yamaha keyboard yang dibawanya sedikit kebesaran untuk bisa disimpan di lemari di atas tempat duduknya. Eda memang sengaja membawanya ke kabin, tidak di bagasi, takut terbanting-banting dan tertindih koper-koper lainnya. Dia tidak sempat membungkusnya dengan baik dan aman. Pramugara Qantas yang melihatnya kebingungan, membantunya mencarikan tempat yang safe untuk keyboard-nya.

Sepasang orang bule muda yang duduk di sampingnya tersenyum ramah. Mereka lagi asyik memandang ke luar jendela ketika Eda datang. Tampak mesra sekali. Yang wanita menggandeng lengan pacarnya. Eda jadi ingat Mas Pras, kekasihnya yang sudah dua tahun lebih berpisah darinya.

Prasetyo, lebih akrab dipanggil Pras, adalah kakak kelas Mas Danu. Bertiga, Mas Danu, Mas Agung dan Mas Pras adalah sobat dekat sejak zaman kuliah. Mereka adalah senior Wanadri, grup pecinta alam, para pendaki gunung.

Eda bertemu dengan Pras untuk pertama kali di rumah orang tua, di Jakarta. Waktu itu dia masih di kelas tiga SMA. Mereka, teman-teman Mas Danu, suka singgah di rumah mereka ketika pulang dari kegiatan mendaki gunung di luar Jawa, atau di negeri manca.

Eda yang dekat dengan Mas Danu, ingin sekali bisa masuk di Wanadri, kelak kalau dia melanjutkan studi di kampus yang sama. Tentu saja, Mas Danu melarangnya. Eda suka sekali mendengar obrolan mereka di garasi rumah, tempat kumpul mereka. Diam-diam rasa kagumnya kepada Pras tumbuh menjadi benih-benih cinta.

Aku berharap, Mas Pras bisa menjemputku di Cengkareng nanti? pikir Eda.

Eda hanya bisa berharap. Mas Pras, seorang explorer, geologist, sering mengerjakan proyek di luar Jawa, di tempat-tempat yang terpencil. Eda sadar, tidak bisa mengharapkan Mas Pras bakal ada di Jakarta ketika dia pulang.

Pesawat Qantas F87 sudah bersiap-siap take off. Moncongnya mendongak, bergerak menembus awan, menggetarkan hati Eda, menyeretnya pada kenangan lama, saat dia hendak melanjutkan studi ke Australia. Itu terjadi, tepat satu semester setelah Mas Pras mendapat tawaran bergabung dengan tim eksplorasi di UK selama dua tahun.

Saat itu, Eda diliputi kebimbangan, antara berangkat ke Australia, atau tidak. Dia sangat mengharapkan Mas Pras akan meminangnya, membawanya ke UK, dan dia bisa melanjutkan studi magister di sana, yang katanya bisa ditempuh dalam satu tahun. Namun itu tidak terjadi. Pras berjanji akan mengabarinya kalau sudah sampai di sana.

Firasatnya seperti berbisik: Eda akan kehilangan Mas Pras bila memutuskan pergi melanjutkan studi. Berarti baru tahun ketiga, mereka bisa bertemu kembali. Kalau Allah mengizinkan. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Anything can happen, sesuatu bisa terjadi, dalam kurun waktu selama itu.

Namun, desakan untuk berangkat studi ke Australia datang dari kiri kanan, dari keluarga, teman-teman, dan bahkan bosnya sendiri, begitu kuatnya, bagai sebuah keniscayaan. Ini adalah sebuah kesempatan yang sangat baik, yang tidak semua orang bisa memperolehnya. Eda tidak berdaya menolaknya. Everything has been well arranged and organized. Semuanya sudah diatur.

Kantornya sibuk mengurus segala keperluan Eda untuk studinya, dari urusan paspor, tiket pesawat, cek kesehatan, izin dari Kementerian Pendidikan. Bahkan, Mama bantu menyiapkan barang-barang yang harus dibawa: baju hangat, souvenir, titipan untuk Mbak Rini dan perlengkapan lainnya. Semuanya sudah disiapkan dengan rapi.

Yang membuat Eda tidak bisa menolak adalah permintaan Mama untuk mengambil kesempatan ini, karena di Melbourne, Eda bisa bertemu dengan Mbak Rini yang mendampingi suaminya studi doktoral di universitas yang sama. Mamanya berharap, Eda bisa sambil menemani Mbak Rini yang saat itu sedang dalam persiapan menjalani operasi besar karena ada kelainan pada uterusnya. Ibunya sangat mengkhawatirkan kondisi Mbak Rini yang memang lemah fisiknya. Tidak seperti Eda yang meski kecil, tapi tampak tegar, sehat, dan gesit.

Dari kecil, aku merasa tidak boleh memilih jalanku sendiri. Semua sudah disiapkan untukku. Aku tinggal menjalaninya tanpa boleh berkata ‘tidak’. Aku tahu, mereka melakukan semuanya, karena mereka sayang kepadaku. Bukan sebaliknya. Dan itu yang selalu membuatku tidak berdaya untuk menolaknya.

Aku memang selalu mendapatkan yang terbaik, meskipun tidak selalu yang aku inginkan atas pilihanku sendiri. Untuk orang-orang yang aku sayangi, aku selalu melakukan yang terbaik.

Aku ini bagaikan Kumbakarna yang tidak boleh memilih nasibnya sendiri, menjadi seorang otoritarian, melakukan segalanya atas kesadaran yang tumbuh dari faktor exogen, dari orang-orang yang aku cintai dan sayangi. Aku tidak ingin menyakiti mereka. Dan inilah kelemahan, sekaligus kelebihan yang aku miliki.

Angan Eda mengembara, menembus ruang dan waktu.

***

Perjalanan Melbourne – Jakarta ditempuh kurang lebih delapan jam, cukup melelahkan. Eda berusaha tidur dan melupakan segala kegalauannya. Bayangan wajah Mas Pras lamat-lamat hadir dan menari-nari di hadapannya. Rasa kangennya yang teramat sangat kepada kekasihnya itu membuat dadanya sesak. Rasa was-was, gelisah, bercampur suka cita menunggu saat pertemuan dengannya, membuatnya makin galau hatinya.

Mas Pras, bertambah berat karena banyak makan daging dan kejukah? Atau masih atletis dan langsing seperti dulu? pikir Eda, membayangkan kekasihnya.

Pesawat Eda transit di Denpasar selama setengah jam, menurunkan rombongan bule-bule yang akan menghabiskan liburan musim panas di Pulau Dewata yang indah. Pasangan muda di sebelah Eda juga turun di sini. Hampir dua pertiga penumpangnya yang mayoritas orang asing itu turun di Denpasar. Pesawat serta merta hampir kosong.

Namun demikian, ada juga turis yang naik ke pesawat menuju ke Jakarta. Mungkin mereka baru pulang dari liburannya. Bali, namanya lebih terkenal dari Indonesia, adalah tujuan wisata yang sangat populer bagi orang asing, terutama dari Australia.

Have a nice holiday,” ucap Eda kepada mereka.

Thank you,” jawab yang perempuan muda itu disertai senyumnya yang manis.

You must be happy to be home again,” imbuh laki-laki muda itu.

Yes, of course,” balas Eda, sambil tersenyum memberi jalan kepada mereka.

Jam 3.30 pm, pesawat F87 yang ditumpangi Eda perlahan menurunkan ketinggiannya. Gugusan pulau-pulau kecil di Utara Laut Jawa, tampak bagaikan kerumunan semut dengan warna hijau dan coklat di atas permadani laut biru yang tenang.

Pramugari memberitahu persiapan landing, memeriksa seatbelt dan sandaran kursi. Akhirnya, roda pesawat dengan mulus menyentuh landasan runway, lalu perlahan berjalan menuju apron dan berhenti. Eda menebarkan pandangannya di luar jendela. Gerimis kecil jatuh membasahi ibukota.

Sedang mimpikah aku? Atau benar-benar sudah kembali ke tanah air tercinta?

Eda bertanya-tanya seolah tidak yakin dia sudah mendarat di Jakarta.

Don’t you want to get off here, Young Lady?” sapa seorang laki-laki asing yang berdiri di gang, di antara tempat duduk. Dia ucapkan bahasa Inggris itu dengan aksen Prancis. Mungkin sekitar 35-40 tahun, ganteng. Mengingatkannya kepada Al Pacino, bintang film Amerika asal Italia, namun garis-garis wajahnya lebih lembut dan ramah.

Dua orang anak kecil, laki-laki dan perempuan mengikuti di belakangnya. Mata mereka yang indah dan berwarna biru memandang Eda dengan penuh rasa ingin tahu, sambil tersenyum ke arahnya, sedikit tersipu. Eda tersenyum. Lalu memandang kembali ke wajah lelaki yang menyapanya.




Novel baruku - Bunga Wattle dari Tullamarine-PART TEN

  kata kunci : Novel - Romanza - Wattle -Tullamarine PART TEN Bunga Wattle dari Tullamarine “ Well, Sir, I think I have to leave. Saya pami...